STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia bergerak stabil pada akhir perdagangan Jumat (13/2/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (14/2/2026) WIB. Kondisi ini terjadi setelah data menunjukkan perlambatan inflasi secara keseluruhan di Amerika Serikat (AS). Investor juga tengah menimbang kemungkinan kembalinya peningkatan produksi oleh OPEC+.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent naik 0,23 USD atau 0,34%. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 67,75 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik tipis 0,05 USD atau 0,08%. Minyak WTI berakhir pada posisi 62,89 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.
Meski ditutup stabil, kedua tolok ukur minyak tersebut mencatatkan penurunan secara mingguan. Brent membukukan kerugian mingguan sebesar 0,6%. Sementara itu, WTI terkoreksi 1,2% dalam sepekan.
Harga konsumen di AS meningkat lebih rendah dari perkiraan pada Januari. Penurunan harga bensin dan moderasi inflasi sewa menjadi faktor penyebabnya. Situasi ini memberikan angin segar bagi stabilitas ekonomi.
Dennis Kissler, Senior Vice President Trading di BOK Financial, memberikan analisanya terkait data tersebut. Menurutnya, stabilitas inflasi akan berdampak pada kebijakan suku bunga.
“Kelihatannya inflasi mulai stabil. Jadi, saya pikir itu akan menjadi keuntungan bagi suku bunga untuk mungkin terus bergerak sedikit lebih rendah. Dan saya pikir saat suku bunga mulai bergerak lebih rendah… itu adalah hal positif bagi ekonomi,” ujar Dennis Kissler.
Namun, ia juga menyoroti sisi negatif dari sisi pasokan. “Hal negatifnya adalah OPEC kemungkinan dapat meningkatkan produksi sedikit lebih jauh,” tambahnya.
Sebelumnya, harga sempat turun saat investor merespons laporan Reuters mengenai rencana OPEC. Organisasi negara pengekspor minyak tersebut cenderung akan melanjutkan peningkatan produksi mulai April mendatang. Langkah ini diambil menjelang puncak permintaan bahan bakar di musim panas.
Selain itu, tensi hubungan AS dan Iran yang mendingin ikut memengaruhi harga. Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan yang meredakan ketegangan geopolitik. Trump menyebut Washington berpeluang mencapai kesepakatan dengan Iran dalam satu bulan ke depan.
Sinyal perdamaian juga muncul dari konflik Rusia dan Ukraina. Rusia menyatakan putaran pembicaraan damai berikutnya akan berlangsung pekan depan. Dennis Kissler menilai negosiasi dengan Iran dan Rusia akan menjadi penggerak pasar dalam jangka pendek.
Menurut Kissler, pasokan minyak mentah global saat ini masih mencukupi. Ia menambahkan harga minyak saat ini masih mengandung premi geopolitik sekitar 5 USD hingga 7 USD per barel.
Di sisi lain, AS mulai melonggarkan sanksi terhadap sektor energi Venezuela. Pemerintah AS mengeluarkan dua lisensi umum yang mengizinkan perusahaan energi global mengoperasikan proyek minyak dan gas di negara tersebut.
Pelonggaran ini juga membuka pintu bagi perusahaan lain untuk menegosiasikan kontrak investasi baru. Langkah ini diprediksi akan menambah pasokan minyak mentah di pasar internasional dalam beberapa bulan ke depan.
Sekretaris Energi AS, Chris Wright, mengungkapkan nilai penjualan minyak dari negara anggota OPEC tersebut. Dana tersebut dihasilkan dari proyek-proyek yang dikendalikan oleh otoritas AS.
“Penjualan minyak dari Venezuela yang dikendalikan oleh AS telah mencapai total lebih dari 1 miliar USD sejauh ini dan dalam beberapa bulan ke depan akan menghasilkan 5 miliar USD lagi,” ujar Chris Wright kepada NBC News.
