Rabu, Januari 21, 2026
27.9 C
Jakarta

Investor Baru Bertambah 434 Ribu di Awal 2026, BEI Siapkan IPO Besar, ETF Emas hingga Short Selling

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)  — Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat kinerja pasar modal yang impresif sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026. Meski sempat menyentuh level terendah di bawah angka 6.000, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses mencetak rekor all-time high sebanyak 24 kali sepanjang tahun lalu.

Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, menjelaskan pencapaian ini merupakan hasil strategi bersama berbagai pihak. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), SRO, anggota bursa, hingga manajer investasi berperan besar dalam menjaga stabilitas pasar.

“Dari perspektif kami di Bursa Efek Indonesia, tentu ini adalah buah dari strategi bersama yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan, SRO, para anggota bursa, manajer investasi, dan seluruh stakeholders,” ujar Jeffrey dalam acara TICMI Outlook Indonesia Capital Market 2025 Performance Review & 2026 Outlook, yang dilakukan secara daring, Rabu (21/1/2026).

Resiliensi pasar modal Indonesia terlihat dari lonjakan transaksi harian. Pada 2025, rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp18,1 triliun. Angka ini tumbuh pesat dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp12,9 triliun.

Jeffrey menyebut pertumbuhan ini terjadi di tengah aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing. Kekuatan basis investor domestik menjadi kunci utama yang menjaga IHSG tetap kokoh.

“Ini adalah berkat dukungan dari basis investor domestik kita yang semakin kuat,” tambahnya.

Jumlah investor baru pada 2025 bertambah sebanyak 5,4 juta orang. Saat ini, total investor di pasar modal telah menembus angka 20 juta. Angka ini menunjukkan pertumbuhan dua kali lipat dalam kurun waktu empat tahun terakhir.

Tren positif ini berlanjut hingga awal 2026. Per 20 Januari 2026, BEI sudah menjaring 434 ribu investor baru. Kapitalisasi pasar juga meroket hingga menyentuh Rp16.560 triliun.

Rata-rata nilai transaksi harian di awal tahun ini bahkan mendekati Rp30 triliun. Investor ritel memberikan kontribusi besar dengan porsi sekitar 50% atau senilai Rp15 triliun per hari.

Menyikapi momentum ini, BEI menyiapkan sejumlah gebrakan baru untuk memperdalam pasar. Perseroan berencana mendorong lebih banyak IPO berskala besar (lighthouse IPO).

Produk investasi baru seperti ETF Emas dan pengembangan instrumen derivatif juga akan segera meluncur. Selain itu, BEI tengah mematangkan implementasi short selling bagi para investor.

Langkah ini diharapkan memberikan pilihan strategi investasi yang lebih beragam. Investor bisa tetap mengoptimalkan keuntungan baik saat kondisi pasar sedang bullish maupun terkoreksi.

“Kami dari Bursa Efek Indonesia tentu momentum pertumbuhan ini harus kita jaga terus di tahun 2026 ini,” tegas Jeffrey Hendrik.

Ia juga mengingatkan para investor untuk tetap memperhatikan fundamental perusahaan. Pemahaman terhadap profil risiko dan penyusunan strategi investasi yang matang menjadi hal yang sangat penting.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Aksi Jual Berlanjut! Pengendali Buang Lagi 3,5% Saham NANO Senilai Rp8,25 Miliar

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Aksi jual saham PT Nanotech Indonesia Global...

Izin Hutan Dikabarkan Dicabut Pemerintah, Toba Pulp Lestari (INRU) Buka Suara

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU)...

Kinerja Solid, MKAP Tetap Jaga Kepercayaan Mitra dan Peluang Pasar di 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Multikarya Asia Pasifik Raya Tbk (MKAP),...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru