back to top

Iran Abaikan Tuntutan AS, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 4%

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak lebih dari 4% pada akhir perdagangan Rabu (18/2/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (19/2/2026) WIB. Kenaikan tajam ini dipicu pernyataan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengenai kegagalan negosiasi nuklir dengan Iran. Teheran dinilai mengabaikan batasan utama Washington dalam pertemuan di Jenewa pekan ini.

Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent naik 2,93 USD atau 4,35%. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 70,35 USD per barel di London ICE Futures Exchange.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 2,86 USD atau 4,59%. Minyak WTI berakhir pada posisi 65,19 USD per barel di New York Mercantile Exchange.

Lompatan harga ini membalikkan tren penurunan yang sempat terjadi pada hari sebelumnya. Investor bereaksi terhadap peringatan JD Vance mengenai opsi serangan militer yang kini berada di atas meja. Presiden Donald Trump tetap membuka peluang penggunaan kekuatan fisik jika diplomasi menemui jalan buntu.

JD Vance mengungkapkan kondisi terkini dari hasil komunikasi diplomatik tersebut. “Presiden telah menetapkan beberapa garis merah yang belum bersedia diakui dan dikerjakan oleh orang-orang Iran,” ujar JD Vance.

Sebelumnya, utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner telah bertemu dengan pihak Iran pada Selasa. Meski Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut pembicaraan itu konstruktif, Washington merasa tuntutan inti mereka tidak digubris. Perbedaan persepsi ini memicu kekhawatiran baru di pasar energi global.

Vance menegaskan komitmen AS dalam menghentikan program nuklir Iran. Ia mengingatkan kembali kekuatan militer yang dimiliki oleh Amerika Serikat saat ini.

“Kami memiliki militer yang sangat kuat dan Presiden telah menunjukkan kesediaan untuk menggunakannya,” tegas JD Vance.

Laporan dari Axios semakin memanaskan suasana di kalangan pelaku pasar. Sumber menyebut kampanye militer AS terhadap Iran kemungkinan akan berskala masif. Serangan tersebut diprediksi akan menyerupai perang penuh daripada sekadar serangan terbatas.

Ketegangan di jalur pasokan minyak utama dunia juga kembali meningkat. Garda Revolusi Iran menggelar latihan perang di Selat Hormuz pada pekan ini. Jalur tersebut merupakan titik krusial bagi arus minyak global.

Data dari firma konsultan energi Kpler menunjukkan sekitar sepertiga dari seluruh ekspor minyak mentah melalui jalur air tersebut. Pasar sangat khawatir arus minyak akan terganggu jika perang antara AS dan Iran benar-benar pecah. Media pemerintah Iran melaporkan sebagian lalu lintas di selat itu sempat ditutup karena latihan militer.

Sebagai langkah antisipasi, Presiden Donald Trump telah menyiagakan kekuatan tempur laut di kawasan tersebut. Kapal induk USS Abraham Lincoln sudah berada di Timur Tengah. Selain itu, kapal induk USS Gerald Ford sedang dalam perjalanan menuju wilayah yang sama.

Trump menjelaskan alasan pengerahan kekuatan militer tambahan ini di depan awak media. “Jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan membutuhkannya,” kata Donald Trump di luar Gedung Putih.

Hingga saat ini, pemerintah Iran belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan pihak Gedung Putih. Ketidakpastian geopolitik ini diprediksi akan terus membayangi pergerakan harga minyak dalam beberapa hari ke depan.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Geopolitik Memanas, Harga Emas Dunia Terbang Tinggi

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia kembali menguat pada...

Investor Menanti Data Ekonomi, Harga Emas dan Perak Kompak Terperosok

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dan perak dunia kompak...

Sinyal Damai AS-Iran Menguat, Harga Minyak Dunia Merosot hingga 1,7%

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia merosot pada akhir...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru