STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia berakhir menguat pada penutupan perdagangan Kamis (8/4/2026) waktu setempat atau Jumat pagi WIB. Meski sempat melonjak tajam, reli harga minyak mulai kehilangan tenaga. Kabar kesediaan Israel untuk bernegosiasi dengan Lebanon menjadi pemicu utamanya.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik lebih dari 3%. Minyak WTI ditutup pada level 97,87 USD per barel. Harga ini sempat melesat melampaui angka 100 USD pada awal sesi perdagangan.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni naik lebih dari 1%. Harga minyak acuan global ini berakhir pada posisi 95,92 USD per barel. Penguatan harga minyak terjadi di tengah ketidakpastian situasi geopolitik di Timur Tengah.
Awalnya, harga minyak mentah AS melambung tinggi karena masalah di Selat Hormuz. Pasar menyadari Iran masih membatasi lalu lintas kapal di jalur penting tersebut. Kondisi ini tetap terjadi meskipun sudah ada kesepakatan gencatan senjata dengan AS.
Sultan Ahmed Al Jaber, CEO Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), memberikan pernyataannya melalui media sosial. Ia menyebut jalur tersebut belum dibuka sepenuhnya bagi kapal-kapal pengangkut. Iran mewajibkan setiap kapal mengantongi izin untuk melintas.
“Itu bukan kebebasan navigasi. Itu adalah paksaan,” tulis Al Jaber.
Reli harga minyak kemudian mereda setelah pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia menyatakan Israel akan bernegosiasi dengan Lebanon sesegera mungkin. Langkah ini diharapkan mencegah kegagalan gencatan senjata antara Washington dan Teheran.
Sebelumnya, kampanye militer Israel di Lebanon melawan Hizbullah dinilai mengancam perdamaian. Hizbullah merupakan sekutu utama Iran di wilayah tersebut. Situasi ini sempat membuat pelaku pasar khawatir akan terjadinya gangguan pasokan energi global.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf melayangkan tuduhan serius kepada AS. Ia menyebut AS telah melanggar poin-poin dalam perjanjian gencatan senjata. Pernyataan ini ia sampaikan melalui akun media sosial resminya.
“Ketidakpercayaan historis yang mendalam yang kami miliki terhadap Amerika Serikat berasal dari pelanggaran berulang terhadap segala bentuk komitmen — sebuah pola yang sayangnya telah terulang sekali lagi,” ujar Ghalibaf.
Ghalibaf menyoroti tiga pelanggaran utama terhadap proposal gencatan senjata 10 poin milik Iran. Pelanggaran tersebut meliputi serangan Israel di Lebanon dan masuknya drone ke wilayah udara Iran. Ia juga mempermasalahkan penolakan hak Teheran untuk memperkaya uranium.
Wakil Presiden AS JD Vance memberikan tanggapan saat melakukan kunjungan ke Hongaria. Ia menanggapi laporan insiden drone dan tuduhan dari pihak Iran. Vance menilai dinamika di lapangan merupakan hal yang biasa terjadi.
“Gencatan senjata selalu berantakan,” tutur Vance.
Vance menegaskan sikap Washington terkait program nuklir Iran. Ia menyebut Iran tetap tidak diizinkan untuk memperkaya uranium. Menurutnya, kesepakatan gencatan senjata yang ada saat ini tidak mencakup wilayah Lebanon.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan proposal Iran bisa menjadi dasar pembicaraan. Namun, tensi di lapangan masih menunjukkan kerentanan. Investor kini terus memantau perkembangan negosiasi antara Israel dan Lebanon untuk melihat arah harga minyak selanjutnya.
