STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup melemah pada akhir perdagangan Kamis sore (12/2/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (13/2/2026) WIB. Investor mulai mengkhawatirkan sisi negatif dari pembangunan kecerdasan buatan (AI). Isu disrupsi AI ini mengancam model bisnis berbagai industri dan memicu potensi kenaikan angka pengangguran.
Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York merosot 669,42 poin atau 1,34% ke level 49.451,98. Indeks S&P 500 (SPX) juga turun 1,57% dan berakhir di posisi 6.832,76. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, jatuh 2,03% menjadi 22.597,15.
Penurunan indeks Dow Jones dipicu oleh saham Cisco Systems yang anjlok 12%. Perusahaan pembuat perangkat keras jaringan ini mengeluarkan panduan keuangan kuartal berjalan yang mengecewakan. Beberapa sektor pasar saham terpukul tahun ini karena peluncuran alat AI dianggap bisa mereplikasi bisnis perusahaan atau menggerus margin keuntungan.
Saham keuangan seperti Morgan Stanley berada di bawah tekanan. Muncul ketakutan AI akan mengganggu bisnis manajemen kekayaan. Saham perusahaan logistik C.H. Robinson juga terjun bebas 14%. AI dikhawatirkan merampingkan operasional pengiriman barang sehingga membebani lini pendapatan tertentu.
Kekhawatiran disrupsi AI bahkan merembet ke sektor real estat. Saham CBRE dan SL Green Realty ikut terpukul. Hal ini didasari anggapan angka pengangguran yang lebih tinggi akan memukul permintaan ruang kantor.
Kelompok saham perangkat lunak memperpanjang kerugian sepanjang tahun ini. Saham Palantir Technologies turun hampir 5%. Penurunan total saham ini sepanjang tahun mencapai lebih dari 27%. Saham Autodesk turun hampir 4%, membuat penurunan tahunannya menjadi sekitar 24%.
ETF Sektor Tech-Software (IGV) turun hampir 3%. Dana tersebut kini berada 31% di bawah level tertingginya setelah memasuki pasar beruang bulan lalu. Di sisi lain, harga perak jatuh 10% yang menambah sentimen penghindaran risiko investor.
Jay Woods, Chief Market Strategist di Freedom Capital Markets, memberikan pandangannya. Menurutnya, AI sebelumnya menjadi pendorong utama kenaikan saham hingga ke titik tertinggi.
“AI, yang merupakan satu-satunya hal yang mendorong saham-saham ini ke tingkat parabola dan kelipatan yang menjadi ekstrem — tidak terlalu ekstrem — sekarang menjadi satu-satunya hal yang menahan mereka,” ujar Woods.
Investor memilih beralih ke area pasar yang lebih defensif demi keamanan. Saham Walmart dan Coca-Cola masing-masing naik 3,8% dan 0,5%. Sektor konsumsi pokok dan utilitas memimpin kenaikan di S&P 500 dengan penguatan lebih dari 1%. Pergerakan ini membawa sektor konsumsi pokok mencapai rekor penutupan tertinggi baru.
Sebelumnya, antusiasme pasar terhadap data pekerjaan yang kuat mulai memudar. Para ekonom meragukan data tersebut sebagai awal dari tren kenaikan penggajian. Revisi laporan menunjukkan tidak ada pertumbuhan lapangan kerja pada paruh kedua 2025.
Kini, para pelaku pasar menantikan laporan inflasi penting pada hari Jumat. Ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan Indeks Harga Konsumen (CPI) Januari menunjukkan kenaikan 0,3% untuk angka utama maupun inti.
Ross Mayfield, Investment Strategist di Baird, memberikan analisanya terkait data ekonomi mendatang. Ia menilai CPI menjadi sedikit kurang penting karena adanya angka pekerjaan yang bagus.
“CPI menjadi sedikit kurang penting sekarang setelah kita mendapatkan angka pekerjaan yang bagus, karena ini sudah memungkinkan Fed untuk berhenti sejenak dalam waktu yang cukup lama,” kata Mayfield.
Mayfield menambahkan, jika CPI datang dengan angka panas, pasar punya waktu beberapa bulan untuk melihat tren sebelum Fed mengambil keputusan sulit. Sebaliknya, jika data melandai, Jumat bisa menjadi hari yang positif bagi pasar.
“Angkanya harus benar-benar buruk ke sisi atas untuk benar-benar berdampak pada pasar ekuitas dan kontrak berjangka dana federal,” tambahnya.
