STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Waskita Karya (Persero) Tbk WSKT) kembali menunda pembayaran bungan obligasi yang telah jatuh tempo. Kali ini, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) karya tersebut tak bisa membayat bunga Obligasi Berkelanjutan III Tahap IV Tahun 2019 Seri B ke-15, ke-16, ke-17.
Kemarin, Waskita Karya tidak mampu menyetorkan dana kepada Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai agen pembayaran bunga ke-15, ke-16, dan ke-17 Obligasi Berkelanjutan III Waskita Karya Tahap IV Tahun 2019 seri B yang jatuh tempo 16 Agustus 2023. Adapun surat utang yang akan jatuh tempo pada 28 September 2023 tersebut memiliki nilai pokok Rp941,75 miliar.
SVP Corporate Secretary WSKT Ermy Puspa Yunita mengatakan, penundaan tersebut dikarenakan saat ini Perseroan sedang dalam proses permohonan perpanjangan waktu atas penundaan seluruh kewajiban (standstill) untuk sementara waktu kepada Kreditur Perbankan. Ini untuk menunjang proses review Master Restructuring Agreement (MRA) secara komprehensif sehingga diberlakukan prinsip equal treatment kepada pemegang obligasi.
“Guna menunjang proses review MRA tersebut, Perseroan mengedepankan prinsip equal treatment kepada kreditur Perbankan dan pemegang Obligasi Non Penjaminan sehingga Perseroan sampai dengan tanggal jatuh tempo bunga Obligasi Berkelanjutan III Tahap IV Tahun 2019 Seri B ke-15, ke-16, ke-17, Perseroan melakukan penundaan pembayaran atas kewajiban jatuh tempo tersebut. Saat ini Perseroan sedang dalam proses perpanjangan masa standstill kepada kreditur Perbankan, namun hingga saat ini proses persetujuan masih berlangsung,” terang Ermy di Jakarta, Rabu (16/8/2023)..
Perseroan, lanjut dia, tetap berusaha untuk memastikan penyelesaian proyek-proyek yang berjalan tidak terganggu secara signifikan walaupun pembayaran obligasi tertunda. Perseroan tetap akan fokus menjalankan seluruh program dan strategi sesuai dengan target-target yang telah ditetapkan.
“Perseroan terus berkomitmen terhadap penguatan implementasi tata kelola Perusahaan (Good Corporate Governance) dan transformasi bisnis dengan mengedepankan bisnis yang profitable, sustainable, serta penguatan manajemen risiko,” tutup Ermy.
