back to top

Ketegangan AS-Iran Meningkat, Indeks Dow Jones Tergelincir 267 Poin

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup melemah pada akhir perdagangan Kamis sore (19/2/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (20/2/2026) WIB. Investor menarik diri dari saham sektor keuangan di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran. Kondisi ini membuat indeks S&P 500 bergerak mendatar sepanjang tahun berjalan.

Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York merosot 267,50 poin atau 0,54% ke level 49.395,16. Indeks S&P 500 (SPX) juga terkoreksi 0,28% dan berakhir di posisi 6.861,89. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, melemah 0,31% menjadi 22.682,73.

Penurunan ini membuat S&P 500 hanya naik 0,2% sepanjang tahun 2026. Indeks Dow Jones masih mencatatkan kenaikan lebih dari 2%. Namun, Nasdaq yang padat teknologi justru sudah anjlok lebih dari 2% tahun ini.

Sektor kredit swasta mengalami tekanan jual cukup besar. Kabar dari pengelola aset alternatif Blue Owl Capital memicu kekhawatiran investor. Perusahaan mengumumkan pengetatan likuiditas setelah menjual aset pinjaman senilai 1,4 miliar USD. Saham Blue Owl anjlok sekitar 6%, sementara saham Blackstone dan Apollo Global Management ikut merosot lebih dari 5%.

Sektor perangkat lunak juga berada dalam tekanan. Saham Salesforce turun lebih dari 1% dan saham Intuit melemah sekitar 2%. Investor khawatir teknologi kecerdasan buatan (AI) akan mengganggu industri tersebut. CEO Mistral AI Arthur Mensch menyebut lebih dari 50% perangkat lunak perusahaan bisa digantikan oleh teknologi AI.

Ketegangan geopolitik turut membebani psikologi pasar. Harga minyak mentah melonjak akibat perselisihan AS dan Iran terkait program nuklir. Presiden Donald Trump menyatakan akan menentukan langkah militer dalam waktu dekat.

“Jadi sekarang kita mungkin harus mengambil langkah lebih jauh, atau mungkin tidak,” ujar Trump dalam rapat perdana Board of Peace. Ia menambahkan, “Mungkin kita akan membuat kesepakatan. Anda akan mengetahuinya dalam kemungkinan 10 hari ke depan.”

Kinerja sektor ritel menambah sentimen negatif. Saham Walmart turun lebih dari 1% akibat prospek laba setahun penuh perusahaan berada di bawah perkiraan. Hal ini menutupi hasil kuartal keempat yang sebenarnya melampaui ekspektasi analis.

Antonio Rodrigues, Chief Investment Officer di Procyon, memberikan analisanya. Ia menilai pergerakan pasar saat ini menunjukkan adanya transisi dalam kepemimpinan sektor.

“Konfirmasi dari perubahan kepemimpinan,” kata Rodrigues. Ia berpendapat pasar perlu melihat dorongan laba dari saham-saham di luar kelompok raksasa. “Kita perlu melihat momentum pendapatan mulai keluar dari 490 nama terbawah,” lanjutnya.

Rodrigues tetap optimis pada sektor industri dan barang konsumsi siklikal. Menurutnya, area tersebut akan mendapatkan efisiensi dari pengeluaran AI. Ia juga menyoroti sektor infrastruktur kelistrikan.

“Segala sesuatu yang berhubungan dengan jaringan listrik masih memiliki landasan,” tuturnya. Rodrigues melihat pembangunan infrastruktur merupakan rencana jangka panjang. “Masih banyak hal yang sedang dibangun. Itu adalah tema multi-tahun, bahkan mungkin multi-dekade,” pungkasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Laba Renault Ambles dan Pengiriman Pesawat Airbus Seret, Bursa Eropa Memerah

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada...

Bursa Saham Asia Kompak Menguat, Indeks Kospi Korea Selatan Melesat 3% dan Cetak Rekor Tertinggi

STOCKWATCH.ID (SEOUL) — Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik kompak...

Ekonomi Dunia Diperkirakan Tumbuh 3,2% pada 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Bank Indonesia (BI) memperkirakan ekonomi dunia...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru