back to top

Bursa Saham Eropa Menghijau Berjamaah

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat pada akhir perdagangan Selasa (10/3/2026) waktu setempat. Pergerakan ini merespons positif meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Sentimen pasar global ikut bangkit seiring penurunan drastis harga minyak mentah dunia.

Mengutip CNBC International, indeks Stoxx Europe 600 yang berisi saham-saham utama di Eropa berakhir naik 1,88% ke posisi 606,12. Hampir semua sektor di kawasan tersebut berada di zona positif. Indeks CAC 40 Perancis naik 1,79% ke level 8.057,36. FTSE MIB Italia melonjak 2,67% ke posisi 45.201,69.

Indeks FTSE 100 Inggris menguat 1,59% ke level 10.412,24. DAX Jerman tumbuh 2,39% ke posisi 23.968,63. Sementara itu, IBEX 35 Spanyol meningkat tajam 3,05% ke level 17.445,00.

Kenaikan ini mengakhiri tren negatif bursa regional selama tiga hari beruntun. Pasar mulai memulihkan kerugian hampir 6% pada pekan sebelumnya. Penurunan ini sempat dipicu oleh kekhawatiran akibat perang antara AS dan Iran. Indeks Minyak dan Gas Stoxx Eropa juga pulih dan ditutup naik 0,3%.

Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal baru terkait konflik di Timur Tengah. Ia menyatakan kesiapannya untuk bertindak menjaga kelancaran jalur vital Selat Hormuz. Trump juga sempat mempertimbangkan wacana mengambil alih kendali selat strategis tersebut.

Trump lantas membagikan pandangannya kepada seorang reporter CBS News.

“Perang ini sangat selesai, hampir semuanya,” ucap Trump.

Komentar ini langsung memicu aksi jual di pasar energi semalam. Harga minyak mentah Brent anjlok 10,6% menjadi USD 88,50 per barel pada Selasa sore waktu London. Minyak mentah AS juga merosot hampir 11% ke posisi USD 84,39 per barel. Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak menembus USD 100 pada hari Senin.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran memberikan peringatan kepada CNBC terkait pelayaran.

Kapal tanker minyak yang transit di Selat Hormuz “harus sangat berhati-hati.”

Para menteri energi negara G7 menjadwalkan pertemuan virtual pada hari Selasa. Mereka mendiskusikan potensi pelepasan cadangan minyak strategis. Langkah ini menyusul diskusi serupa oleh para menteri keuangan G7 sehari sebelumnya.

Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, turut membahas opsi pelepasan stok minyak darurat. Ia menyoroti konflik Timur Tengah dengan menyebut kondisinya “menciptakan risiko yang signifikan dan berkembang bagi pasar.”

CEO raksasa minyak Saudi Aramco, Amin Nasser, juga menyampaikan pandangannya. Ia merespons dampak perang Iran saat panggilan pendapatan perusahaan.

Kondisi tersebut akan memicu “konsekuensi bencana bagi pasar minyak dunia,” tegas Nasser.

Direktur Investasi AJ Bell, Russ Mould, memberikan catatannya kepada para investor. Ia menilai perkembangan semalam “tidak mungkin menjadi kata terakhir dalam krisis saat ini.”

“Semua mata kemungkinan tertuju pada G7 dan apakah mereka akan merilis cadangan minyak darurat untuk membantu menenangkan pasar lebih lanjut,” terang Mould.

Sektor penerbangan menikmati keuntungan besar berkat turunnya harga minyak dunia. Kekhawatiran maskapai terhadap melonjaknya biaya bahan bakar jet menjadi mereda. Saham Lufthansa terbang 7,8% dan saham Air France melesat 5,1%.

Di sisi korporasi, raksasa otomotif Jerman Volkswagen melaporkan penurunan laba operasi sebesar 53% secara tahunan. Penurunan ini dipicu oleh rezim tarif Trump dan fluktuasi mata uang. Selain itu, terdapat penyesuaian strategi produk pada Porsche.

Chief Operating Officer dan Chief Financial Officer Volkswagen, Arno Antlitz, memberikan tanggapannya.

“Tahun lalu memang sangat menantang,” kata Antlitz.

“Tetapi di tahun yang penuh tantangan ini, kami mengambil beberapa langkah penting untuk meningkatkan ketahanan Grup Volkswagen,” tambahnya.

Langkah tersebut mencakup peluncuran 30 model kendaraan baru dan restrukturisasi perusahaan. Volkswagen berhasil mencetak arus kas lebih dari 6 miliar euro atau USD 7 miliar. Likuiditas perusahaan pun tetap stabil. Saham Volkswagen merespons positif dengan kenaikan lebih dari 3%.

Sementara itu, produsen cokelat Swiss Lindt membukukan penjualan setahun penuh sebesar 5,9 miliar euro. Angka ini mencerminkan pertumbuhan organik 12,4% dari tahun sebelumnya. Laba operasi tercatat melampaui ekspektasi sebesar 971 juta euro.

Pencapaian ini diraih di tengah iklim bisnis yang tidak menentu, seperti harga kakao yang fluktuatif dan ketegangan geopolitik. Meskipun kinerjanya sangat kuat, saham Lindt justru ditutup anjlok 10,1%.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Dibayangi Konflik Iran dan Gejolak Harga Minyak, Wall Street Berakhir Lesu

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Bursa Saham Asia-Pasifik Kompak Rebound

STOCKWATCH.ID (TOKYO) - Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik kompak...

Wall Street Berbalik Arah, Indeks Dow Jones Melompat 200 Poin

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru