STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencermati ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela. Para pelaku jasa keuangan terus memantau dampak konflik ini terhadap stabilitas pasar keuangan global.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menyampaikan keterangan tersebut dalam Konferensi Pers RDK Bulanan (RDKB) Desember 2025 di Jakarta, Jumat (9/1). Saat ini, dampak langsung konflik tersebut terhadap harga minyak dunia belum terlihat di Indonesia.
OJK juga menilai harga komoditas utama ekspor nasional masih stabil. Namun, kewaspadaan perlu ditingkatkan untuk jangka menengah dan panjang.
“Secara umum tentu kami dapat menyampaikan sampai saat ini para pelaku jasa keuangan ya, termasuk juga di pasar keuangan, masih terus mencermati perkembangan terjadi,” ujar Mahendra.
Risiko geopolitik memicu ketidakpastian tinggi pada proses pertumbuhan ekonomi global. Situasi ini dinilai makin sulit karena sering terjadi pelanggaran kedaulatan wilayah suatu negara oleh negara lain.
“Maka sekalipun demikian, kita tentu juga harus mencermati perkembangan dan risikonya kepada perekonomian dan sektor jasa keuangan dalam jangka menengah panjangnya ya,” tuturnya.
OJK meminta seluruh lembaga jasa keuangan (LJK) melakukan pemantauan intensif. Mitigasi risiko mencakup risiko pasar, risiko likuiditas, hingga risiko kredit pembiayaan.
Berbagai lembaga internasional memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 di bawah 3%. Angka ini merupakan pertumbuhan terendah setelah pandemi Covid-19 usai.
Di sisi lain, ekonomi dalam negeri per Desember 2025 menunjukkan performa positif. Sektor manufaktur tetap ekspansif dan neraca perdagangan mencatatkan surplus meskipun inflasi inti meningkat.
“Jadi singkatnya, dalam jangka pendek belum terlihat dan terasa secara langsung, dalam jangka menengah panjang harus kita waspadai terus,” tandasnya.
