Minggu, Januari 11, 2026
25.8 C
Jakarta

Konflik Yaman Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari US$1

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia bergerak naik pada perdagangan Senin (29/12/2025) waktu setempat atau Selasa pagi (30/12/2025) WIB. Kenaikan tercatat lebih dari US$1 per barel. Pemicu utamanya adalah kekhawatiran gangguan pasokan di Timur Tengah akibat memanasnya ketegangan di Yaman. Selain itu, tuduhan Rusia terhadap Ukraina terkait serangan pesawat nirawak turut memengaruhi sentimen pasar.

Mengutip CNBC International, minyak mentah Brent naik US$1 atau 1,7% ke level US$61,64 per barel, di London ICE Futures Exchange. Kenaikan ini terjadi seiring pergerakan pasar energi global.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mendaki US$1,10 atau 1,9% ke posisi US$57,84 per barel, di New York Mercantile Exchange.

Kenaikan ini terjadi setelah harga minyak sempat turun lebih dari 2% pada Jumat sebelumnya. Penurunan tersebut dipicu oleh harapan akan tercapainya kesepakatan damai di Ukraina. Namun, situasi geopolitik yang kembali memanas mengubah arah pasar.

Analis dari Gelber & Associates memberikan pandangannya dalam sebuah catatan.

“Fokus pasar telah bergeser ke Timur Tengah, di mana ketidakstabilan baru, termasuk serangan udara Saudi di Yaman, membuat berita utama gangguan pasokan tetap menjadi perhatian,” tulis mereka.

Di Yaman, koalisi yang dipimpin Arab Saudi mengeluarkan peringatan keras. Mereka menyatakan akan melawan setiap gerakan militer dari kelompok separatis selatan di provinsi Hadramout yang mengganggu upaya de-eskalasi. Kantor berita negara Saudi melaporkan hal ini pada hari Sabtu.

Eskalasi pertempuran pada hari Kamis sebelumnya menewaskan dua orang dari Pasukan Elite Hadhrami. Serangan udara Saudi menyusul pada Jumat pagi, menargetkan pasukan separatis di wilayah tersebut.

Ketegangan juga meningkat di Eropa Timur. Moskow menuduh Ukraina meluncurkan serangan pesawat nirawak ke kediaman presiden Rusia di Rusia utara. Akibat insiden ini, Moskow berencana meninjau kembali posisinya dalam pembicaraan damai. Ukraina membantah tuduhan tersebut. Menteri Luar Negeri Ukraina menyebut Moskow sedang mencari “pembenaran palsu” untuk serangan lebih lanjut.

Padahal sebelumnya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy sempat menyatakan adanya kemajuan signifikan dalam pembicaraan dengan Donald Trump. Trump juga dikabarkan telah melakukan panggilan telepon yang positif dengan Presiden Vladimir Putin.

Faktor lain yang turut menopang harga minyak adalah data impor minyak mentah China yang kuat. Analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai hal ini membantu mengetatkan pasar minyak.

“US$60 per barel adalah batas bawah lunak untuk Brent, dengan harga diperkirakan akan pulih sedikit pada tahun 2026 karena pertumbuhan pasokan non-OPEC+ kemungkinan akan terhenti pada pertengahan tahun 2026,” tambah Giovanni.

Sementara itu, investor energi masih menantikan data cadangan minyak AS untuk pekan yang berakhir 19 Desember. Laporan yang seharusnya rilis Senin pagi waktu setempat mengalami penundaan tanpa jadwal baru yang pasti. Jajak pendapat Reuters memperkirakan persediaan minyak mentah AS turun, sementara persediaan bensin dan distilat diperkirakan naik.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Emas Masih ‘Anteng’ di Level USD 4.452, Analis Ramal Bisa Tembus USD 5.000

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia bergerak stabil pada...

Harga Minyak Dunia Melonjak 3%, Pasokan Global Jadi Sorotan

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia ditutup menguat tajam...

Aksi Ambil Untung Tekan Harga Emas, Logam Mulia Lainnya Ikut Tumbang

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia berakhir melemah pada...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru