Stockwatch.id Versi penuh
Financial

Kredit BBNI Tumbuh Agresif 24,4%, Ini Catatan Kiwoom Sekuritas untuk Semester II 2026

Oleh Daiz La Ode 05 Aug 2026 23:04 3 menit baca

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai kinerja PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) pada semester I-2026 tetap solid. Pertumbuhan laba ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga bersih, pendapatan berbasis komisi, dan ekspansi kredit. Namun, tekanan terhadap net interest margin (NIM) akibat kenaikan biaya dana masih menjadi perhatian utama.

Dalam riset bertajuk BBNI 1H26 Earnings Key Takeaways, Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Kevin Yudha Pratama, menyebut BBNI membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik sebesar Rp10,8 triliun pada semester I-2026 atau naik 6,6% dibanding periode sama tahun lalu.

Sementara itu, pre-provision operating profit (PPOP) mencapai rekor tertinggi Rp18,5 triliun, meningkat 14,5% secara tahunan. Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) naik 14,2% menjadi Rp22,3 triliun, sedangkan pendapatan berbasis komisi (fee-based income) juga tumbuh 14,2% menjadi Rp9 triliun. Di sisi lain, beban pencadangan melonjak 42,1% secara tahunan sehingga membatasi pertumbuhan laba bersih. Pada kuartal II-2026, laba bersih tercatat Rp5,1 triliun, turun 10% dibanding kuartal sebelumnya.

Kevin mengatakan, "BBNI membukukan laba inti semester I-2026 yang mencetak rekor, didukung pertumbuhan pendapatan bunga bersih dan pendapatan berbasis komisi. Namun, kenaikan pencadangan membatasi pertumbuhan laba bersih dibanding kekuatan operasional intinya."

Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit konsolidasi mencapai Rp968,5 triliun, tumbuh 24,4% dibanding tahun lalu atau 7,7% sejak awal tahun. Pertumbuhan tersebut sudah mendekati batas bawah target manajemen tahun 2026 sebesar 8%-10%.

Ekspansi kredit terutama berasal dari segmen Enterprise, korporasi BUMN, dan pembiayaan program pemerintah melalui Agrinas. Sebaliknya, kredit korporasi swasta, konsumer, dan usaha kecil masing-masing hanya tumbuh 9,6%, 9,4%, dan 4,9% secara tahunan.

Menurut Kevin, "Pertumbuhan kredit tetap kuat, tetapi masih didominasi pembiayaan wholesale dan program pemerintah."

Kiwoom juga menyoroti meningkatnya tekanan terhadap margin bunga bersih. NIM bank secara standalone turun menjadi 3,6% dari 3,8% pada semester I-2025. Imbal hasil kredit (loan yield) juga turun menjadi 6,9% dari 7,3%.

Pada saat yang sama, biaya dana pihak ketiga meningkat menjadi 2,63% pada kuartal II-2026 dari 2,49% pada kuartal I-2026. Deposito berjangka melonjak 50,7% secara tahunan, jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan dana murah (CASA) yang hanya 11,2%. Kondisi tersebut membuat rasio CASA turun menjadi 65,4% dari 72% setahun sebelumnya.

Akibat tekanan tersebut, manajemen merevisi target NIM tahun 2026 menjadi 3,3%-3,5% dari target sebelumnya 3,5%-3,8%. Sementara target pertumbuhan kredit 8%-10% dan biaya kredit (credit cost) 1%-1,2% tetap dipertahankan.

Kevin mengatakan, "Persaingan penghimpunan dana dan kenaikan suku bunga deposito mendorong kenaikan biaya dana. Karena itu, manajemen merevisi target NIM tahun 2026 menjadi 3,3%-3,5%."

Di tengah tekanan margin, pendapatan berbasis komisi dan layanan digital tetap menjadi penopang kinerja. Fee-based income tumbuh menjadi Rp9 triliun, didukung peningkatan pendapatan business banking, sindikasi, transaksi valuta asing, derivatif, serta biaya administrasi rekening.

Aplikasi wondr telah memiliki 15,1 juta pengguna terdaftar. Sementara BNIdirect mencatat 280 ribu pengguna dengan nilai transaksi mencapai Rp6.039 triliun dan 789 juta transaksi. Rasio efisiensi (CIR) bank juga membaik menjadi 44,6% meski beban operasional meningkat 12,6%.

Dari sisi kualitas aset, loan at risk (LaR) bank turun menjadi 8,1% dari 11% setahun sebelumnya. Rasio kredit bermasalah (gross NPL) tetap stabil di 1,9%, sedangkan credit cost berada di 1,12%, masih sesuai target manajemen sebesar 1%-1,2%.

Namun demikian, Kiwoom mencatat kualitas kredit segmen konsumer masih perlu dicermati. Rasio NPL konsumer naik menjadi 3%, sedangkan NPL kredit pemilikan rumah mencapai 3,9% dan kartu kredit 4,3%. Coverage NPL turun menjadi 198,3%, sementara coverage LaR meningkat menjadi 47,4%.

Ke depan, Kiwoom menilai pemulihan permintaan kredit sektor swasta, monetisasi layanan digital, peningkatan rasio CASA, dan stabilisasi biaya dana akan menjadi katalis utama bagi kinerja BBNI. Sebaliknya, persaingan dana pihak ketiga, tekanan terhadap NIM, serta potensi pelemahan kualitas aset di segmen konsumer masih menjadi risiko yang perlu diperhatikan.


Topik terkait
saham BBNI laba bersih BNI kinerja BBNI 2026 Kiwoom Sekuritas penyaluran kredit BNI