Laba Bank Mandiri Tembus Rp30,4 Triliun, Kredit Tumbuh 19,9% Ditopang Sinergi Ekosistem dan Digitalisasi
STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp30,4 triliun hingga semester I 2026. Capaian tersebut meningkat 24,4% dibandingkan periode...
STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp30,4 triliun hingga semester I 2026. Capaian tersebut meningkat 24,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kinerja itu ditopang oleh pertumbuhan penyaluran kredit yang tetap tinggi, kualitas aset yang terjaga, efisiensi operasional, serta penguatan kapabilitas digital. Di saat yang sama, Bank Mandiri terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong sektor riil melalui pembiayaan berbagai ekosistem ekonomi nasional.
Hingga Juni 2026, bank berkode saham BMRI tersebut mencatatkan penyaluran kredit bank only sebesar Rp1.592 triliun, tumbuh 19,9% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut melampaui rata-rata pertumbuhan kredit industri yang sebesar 12,7% berdasarkan data Bank Indonesia.
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) bank only mencapai Rp1.710 triliun, meningkat 17,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan itu juga lebih tinggi dibandingkan kenaikan DPK industri sebesar 10,2%.
Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, mengatakan pertumbuhan kredit tersebut menjadi bagian dari upaya perseroan memperkuat aktivitas ekonomi nasional melalui berbagai ekosistem usaha.
"Ekosistem-ekosistem ini saling melengkapi dan turut menopang penyaluran program prioritas nasional, mulai dari pembiayaan proyek strategis pemerintah, penguatan daya saing pelaku usaha, hingga perluasan akses finansial bagi UMKM dan masyarakat. Ini mencerminkan komitmen Bank Mandiri untuk terus hadir sebagai ekosistem penggerak ekonomi negeri, dari kota besar hingga ke pelosok daerah," ujar Riduan dikutip dari Public Expose Kuartal II 2026 Bank Mandiri di Jakarta, Kamis (23/7).
Pada ekosistem pemerintahan dan BUMN, penyaluran kredit mencapai Rp489 triliun hingga Juni 2026 atau tumbuh 41,6% secara tahunan. Pembiayaan tersebut diarahkan untuk mendukung proyek strategis nasional, infrastruktur, energi, pertahanan, hingga layanan publik.
Sementara itu, pada ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), penyaluran kredit usaha mikro meningkat 15,7% menjadi Rp31,3 triliun. Pembiayaan tersebut ditujukan untuk memperluas akses keuangan yang inklusif bagi individu, keluarga, masyarakat produktif, dan pelaku UMKM.
Direktur Commercial Banking Bank Mandiri, Totok Priyambodo, mengatakan pertumbuhan sektor riil juga tercermin dari peningkatan pembiayaan pada segmen komersial.
Outstanding kredit komersial tercatat mencapai Rp343 triliun hingga Juni 2026 atau meningkat 15,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Kami terus mengarahkan pembiayaan kepada sektor-sektor yang memiliki efek berganda terhadap perekonomian nasional, termasuk perkebunan, hilirisasi, transportasi dan logistik, energi, serta berbagai sektor produktif lainnya. Dengan pendekatan tersebut, kami berharap pertumbuhan kredit tidak hanya mendorong ekspansi usaha nasabah, tetapi juga memperkuat daya saing ekonomi nasional secara lebih merata," tutur Totok.
Profitabilitas Tetap Terjaga
Pertumbuhan kredit yang sehat tersebut turut menopang peningkatan profitabilitas Bank Mandiri. Selain mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp30,4 triliun, perseroan juga membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 10,3% secara tahunan sepanjang semester I 2026.
Totok menjelaskan peningkatan laba bukan berasal dari pertumbuhan jangka pendek, melainkan hasil ekspansi kredit yang berkualitas dan berfokus pada sektor produktif.
"Pencapaian laba ini adalah hasil dari kualitas ekspansi kredit yang kami jaga, dengan penyaluran yang difokuskan ke sektor produktif dan padat karya, sehingga berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja di berbagai wilayah Indonesia," terang Totok.
Komitmen memperkuat fungsi intermediasi juga tercermin dari penyaluran kredit dengan suku bunga yang kompetitif. Hal tersebut terlihat dari Net Interest Margin (NIM) Bank Mandiri yang berada di level 4,37% per Juni 2026 dibandingkan 4,63% pada Juni 2025.
Digitalisasi Tingkatkan Efisiensi
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, mengatakan produktivitas operasional terus meningkat seiring penguatan transformasi digital. Hal itu tercermin dari rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) bank only yang terjaga di level 57,6%, membaik 6,2 poin dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Novita, peningkatan efisiensi tersebut didukung pengembangan layanan digital yang semakin luas. Hingga Juni 2026, aplikasi Livin' by Mandiri telah digunakan sekitar 41 juta pengguna terdaftar atau tumbuh 24,3% secara tahunan. Rata-rata terdapat sekitar 27 ribu pengguna baru setiap hari.
Perseroan juga terus menambah berbagai fitur seperti KSM Emas, KA Deposito, Next-G, hingga Livin' Call yang menyediakan layanan call center bebas pulsa selama 24 jam. Di segmen bisnis, Kopra by Mandiri telah melayani sekitar 354 ribu pengguna atau meningkat 26,8% secara tahunan. Sekitar 84% pengguna platform tersebut berasal dari pelaku UMKM.
Pengembangan platform Kopra dilakukan melalui berbagai fitur, antara lain DHE Tracker, e-Documents Trade & Bank Garansi, serta berbagai solusi digital terintegrasi.
"Seluruh kapabilitas digital Bank Mandiri merupakan sarana untuk menjangkau nasabah secara efektif dan efisien, bahkan hingga ke pulau-pulau terluar, guna mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat yang inklusif," ujar Novita.
Kualitas Aset Tetap Sehat
Ekspansi bisnis tersebut diimbangi dengan pengelolaan risiko yang disiplin. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) Gross bank only berada di level 0,98%, membaik 10 basis poin dibandingkan tahun lalu.
Sementara itu, Cost of Credit (CoC) turun menjadi 0,52% atau membaik 1 basis poin. Perseroan juga mempertahankan NPL Coverage Ratio sebesar 242% sebagai bantalan menghadapi risiko ke depan.
Direktur Risk Management Bank Mandiri, Danis Subyantoro, mengatakan setiap ekspansi bisnis dilakukan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
"Kami memastikan pertumbuhan kredit selalu berjalan beriringan dengan kualitas aset yang terjaga. Prinsip kehati-hatian inilah yang menjaga akselerasi bisnis tetap sehat dan berkelanjutan dalam jangka panjang," ungkap Danis.
Pembiayaan Berkelanjutan Terus Diperkuat
Bank Mandiri juga memperkuat implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) melalui tiga pilar utama, yakni Sustainable Banking, Sustainable Operation, dan Sustainability Beyond Banking.
Hingga Juni 2026, portofolio pembiayaan berkelanjutan mencapai Rp327 triliun, naik 7,5% dibandingkan tahun lalu. Nilai tersebut terdiri atas pembiayaan hijau sebesar Rp173 triliun, meningkat 9,8%, serta pembiayaan sosial sebesar Rp155 triliun, tumbuh 5%.
Pada kuartal II 2026, Bank Mandiri juga memperoleh social loan senilai USD750 juta yang dijamin Multilateral Investment Guarantee Agency (MIGA), bagian dari World Bank Group. Dana tersebut digunakan untuk mendukung pembiayaan UMKM, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), sekaligus memperkuat inklusi keuangan bagi UMKM yang dikelola perempuan.
Di sisi operasional, perseroan terus menekan emisi melalui penggunaan 626 kendaraan listrik dan hybrid, pemasangan 870 panel surya, optimalisasi green building, serta penyediaan 33 charging station.
Sementara itu, inklusi keuangan diperkuat melalui Livin' Merchant yang 63% penggunanya berada di wilayah non-urban. Perseroan juga menjalankan berbagai program tanggung jawab sosial seperti Mandiri Donor Darah, Buku Mandiri untuk Negeri, Mandiri Berbagi Sembako, Mandiri Sahabat Desa, dan Mandiri Bakti Kesehatan.
Bank Mandiri juga menghadirkan fitur Livin' Planet yang memungkinkan nasabah membeli Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK) dari proyek Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) yang diperdagangkan melalui IDXCarbon.
Menutup paparannya, Riduan menegaskan perseroan akan terus memperkuat ekosistem bisnis sekaligus memperluas layanan keuangan bagi masyarakat.
"Fundamental yang kokoh ini menjadi bekal kami untuk terus tumbuh, memperdalam penetrasi ekosistem Mandiri Group, serta menghadirkan layanan finansial yang menyeluruh bagi masyarakat dan pelaku usaha. Dengan begitu, kami optimistis Bank Mandiri akan terus menjadi pemimpin nasional sejalan dengan visi The Best Financial Institution in Southeast Asia, sekaligus mitra strategis pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi," pungkas Riduan.