STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Kinerja keuangan PT FKS Food Sejahtera Tbk (AISA) tampak solid sepanjang tahun 2025. Penjualan dan laba emiten perdagangan dan manufaktur makanan olahan ini kompak tumbuh. Pencapaian ini berkat efisiensi operasional dan penurunan beban pajak yang dilakukan manajemen Perseroan.
Menurut laporan keuangan tahun 2025 yang diumumkan, Rabu 18 Februari 2026, laba AISA yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh 28,29% menjadi Rp89,12 miliar (Rp9,57 per saham) pada 2025 jika dibandingkan Rp69,47 miliar (Rp74,46 per saham) pada tahun 2024.
Pertumbuhan laba Perseroan antara lain ditunjang oleh penjualan bersih yang mencapai Rp1,95 triliun pada 2025, naik tipis1 ,94% dari Rp1,92 triliun pada 2024. Kenaikan laba juga didukung keberhasilan Perseroan menekan turun beban pajak penghasilan sebesar 53,31% jadi Rp19,74 miliar dari Rp42,28 miliar pada 2024
Beban pokok penjualan AISA turun 1,46% menjadi Rp1,19 triliun pada 2025, dari tahun sebelumnya Rp1,21 triliun. Penurunan beban pokok tersebut mendorong laba kotor emiten manufaktur makanan olahan tersebut naik 7,79% menjadi Rp762,86 miliar pada 2025, dibanding Rp707,69 miliar pada tahun 2024.
Dari sisi neraca keuangan, AISA memiliki total aset sebesar Rp2,08 triliun pada 2025, meningkat 6,4% dari Rp1,96 triliun pada tahun 2024. Adapun jumlah liabilitas dan ekuitas Perseroan pada 2025, masing-masing sebesar Rp945,86 miliar dan Rp1,14 triliun.
Seperti diketahui, PT FKS Food Sejahtera Tbk (AISA) adalah perusahaan yang didirikan pada tahun 1959 sebagai bisnis keluarga, dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1990. Perusahaan tersebut bergerak dalam bidang perdagangan dan manufaktur makanan pokok dan makanan konsumen.
Awalnya PT Asia Inti Selera yang memproduksi sembako seperti bihun kering dan mie kering. Kemudian, membangun pabrik pada tahun 1995 dan 2001 di Jawa Tengah. PT Asia Inti Selera diakuisisi oleh PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk pada tahun 2003, kemudian berganti nama menjadi yang sekarang pada tahun 2021. Perusahaan tersebut juga memproduksi lebih banyak variasi produk makanan konsumen, seperti keripik kentang taro dan permen Gulas. (konrad)
