STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) membukukan laba bersih sebesar USD137,67 juta pada tahun buku 2025. Realisasi ini turun 14,12% dibandingkan laba bersih tahun 2024 yang mencapai USD160,30 juta.
Penurunan laba terjadi di tengah pertumbuhan pendapatan dan kinerja operasional yang tetap solid. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi per 31 Desember 2025, Perseroan mencatat total pendapatan sebesar USD432,73 juta. Angka ini naik 6,29% dibandingkan USD407,12 juta pada tahun 2024.
Direktur Keuangan PGEO Yurizki Rio menjelaskan capaian tersebut menunjukkan kondisi fundamental Perseroan tetap kuat di tengah dinamika industri energi global.
“Pendapatan pada periode ini meningkat 6,29% secara year-on-year dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang tercatat USD407,12 juta. Capaian ini menunjukkan kinerja PGE tetap berada pada jalur yang sehat,” ujar Yurizki, dalam siaran pers di Jakarta, dikutip Senin (9/3/2026).
Kinerja keuangan Perseroan ditopang oleh peningkatan produksi panas bumi. Produksi PGE sepanjang 2025 mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah atau all-time high. Produksi meningkat sekitar 5,6% dibandingkan tahun sebelumnya.
Secara operasional, Perseroan membukukan laba usaha sebesar USD205,57 juta pada 2025. Angka ini sedikit turun dibandingkan laba operasional tahun 2024 yang mencapai USD210,27 juta. Sementara itu, EBITDA tercatat sebesar USD329,31 juta pada 2025, naik dari USD322,99 juta pada tahun sebelumnya.
Dari sisi neraca, posisi keuangan Perseroan tetap kuat. Total aset PGE per 31 Desember 2025 tercatat sebesar USD3,03 miliar, meningkat dari USD2,99 miliar pada akhir 2024.
Aset tersebut terdiri dari aset lancar sebesar USD880,97 juta dan aset tidak lancar USD2,15 miliar. Sementara itu, total liabilitas Perseroan tercatat USD988,89 juta.
Ekuitas Perseroan mencapai USD2,05 miliar pada akhir 2025, meningkat dibandingkan USD2,01 miliar pada tahun sebelumnya. Struktur permodalan ini mencerminkan neraca yang relatif solid untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan.
Kas dan setara kas Perseroan tercatat sebesar USD718,50 juta. Posisi likuiditas ini memberikan ruang bagi Perseroan untuk mendukung pengembangan proyek panas bumi baru.
Dari sisi rasio keuangan, kinerja Perseroan juga tetap stabil. Rasio lancar meningkat menjadi 4,11 dari 3,65 pada tahun sebelumnya. Return on Assets (ROA) tercatat sekitar 5%, sedangkan Return on Equity (ROE) berada di kisaran 7%.
Direktur Utama PGEO Ahmad Yani menyampaikan Perseroan terus menyiapkan strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi sebagai pemain utama panas bumi global.
“PGE memiliki visi untuk berkembang menjadi world leading geothermal producer. Artinya tidak hanya unggul dari sisi kapasitas terpasang, tetapi juga diakui sebagai geothermal center of excellence di tingkat global,” ujar Ahmad Yani.
Saat ini PGE mengelola pembangkit listrik tenaga panas bumi dengan kapasitas terpasang sekitar 727 megawatt (MW). Perseroan juga menjalankan berbagai proyek ekspansi untuk meningkatkan produksi energi bersih.
Beberapa proyek utama antara lain pengembangan Lumut Balai Unit 3 dan 4 dengan kapasitas 2×55 MW, Hululais Unit 1 dan 2 sebesar 110 MW, serta Lahendong Unit 7 dan 8 sebesar 2×20 MW. Selain itu terdapat proyek Binary Unit berkapasitas 10 MW.
Perseroan juga mengembangkan proyek co-generation dengan total kapasitas sekitar 230 MW. Program ini bertujuan meningkatkan pemanfaatan energi panas bumi secara optimal.
PGE juga memperkuat kolaborasi dengan PT PLN Indonesia Power untuk mempercepat pengembangan panas bumi melalui 19 proyek dengan total kapasitas sekitar 530 MW.
Melalui kerja sama tersebut, potensi tambahan kapasitas listrik diperkirakan dapat mencapai sekitar 1.130 MW dari wilayah kerja yang sudah berproduksi maupun area prospektif baru.
Langkah ekspansi ini mendukung target pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia. Pemerintah menargetkan kapasitas pembangkit energi bersih mencapai sekitar 76% dari total tambahan kapasitas listrik nasional pada periode 2025-2034.
