STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI mencetak prestasi gemilang sepanjang tahun 2025. Bank syariah terbesar di Tanah Air ini mengantongi laba bersih Rp7,567 triliun.
Angka tersebut tumbuh 8% dibandingkan perolehan laba bersih tahun 2024 yang tercatat Rp7,006 triliun. Kenaikan laba ini otomatis mengerek laba bersih per saham atau earnings per share (EPS) perseroan.
Berdasarkan laporan keuangan BSI per Desember 2025, EPS melonjak 8,01%. Pemegang saham kini menikmati laba Rp164,05 per saham dari sebelumnya Rp151,88 per saham pada 2024.
Seiring dengan kinerja keuangan tersebut, perhatian investor tertuju pada proyeksi dividen BSI ke depan. Direktur Finance and Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho menyampaikan pandangan manajemen terkait kebijakan dividen perseroan.
“Jadi terkait dengan proyeksi dividen yang akan dibagikan di BSI mungkin yang pertama perlu kita pahami bersama rekan-rekan media, BSI memang agak berbeda dengan kebanyakan bank di mana BSI itu memang baru aja memasuki growing stage,” ujar Ade dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat (6/1/2026).
Ia menjelaskan, dalam fase pertumbuhan, kebijakan dividen bukan menjadi prioritas utama perseroan. Fokus utama BSI berada pada penguatan modal untuk menopang ekspansi bisnis ke depan.
“Jadi ketika suatu company atau suatu institusi seperti kami dalam growing stage memang dividend payout biasanya menjadi second priority setelah diskusi berapa agresif BSI bisa tumbuh ke depan,” lanjutnya.
Ade juga menyinggung kinerja pertumbuhan BSI yang dinilai melampaui pasar. Menurutnya, kebutuhan permodalan menjadi faktor penting agar perseroan dapat menjaga momentum pertumbuhan tersebut.
“Tadi Pak Dirut sudah menyampaikan pertumbuhan bisnis BSI tahun 2025 sudah double the market dan 2026 masih dalam tone yang sama gitu ya. Jadi artinya kalau kita mau tumbuh agresif ada kebutuhan capital untuk support terhadap pertumbuhan tersebut,” ucap Ade.
Ia menegaskan arah kebijakan dividen BSI akan tetap mempertimbangkan posisi perseroan yang masih berada pada fase bertumbuh, serta keputusan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
“Jadi itu secara besar arahan terkait dengan dividend payout yang tentu ini semua akan berpulang juga kepada keputusan pemegang saham nanti di bulan di mungkin di tahun 2026,” ujarnya.
Ade menambahkan, BSI tidak akan mengambil kebijakan dividen agresif seperti bank-bank yang telah berada pada fase matang.
“Jadi kami rasa BSI tidak akan mengambil langkah agresif terkait dengan dividend payout seperti bank-bank yang lebih mature stage-nya seperti bank Himbara lainnya, tapi kita lebih concern bagaimana kita punya equity untuk mendukung pertumbuhan BSI yang agresif mumpung momentumnya sedang kita miliki,” kata Ade.
Sebagai informasi, sejak resmi terbentuk melalui merger pada awal 2021, BSI secara konsisten membagikan dividen tunai. Untuk tahun buku 2024, perseroan membagikan dividen sebesar Rp1,05 triliun atau Rp22,78 per saham dengan payout ratio 15%. Dividen tersebut dibayarkan pada Juni 2025.
Pada tahun buku 2023, BSI membagikan dividen Rp855,56 miliar atau Rp18,55 per saham dengan payout ratio 15%. Sementara itu, pada tahun buku 2022, rasio dividen diturunkan menjadi 10% dengan total dividen Rp426,02 miliar atau Rp9,24 per saham.
Adapun pada tahun buku 2021, atau tahun pertama pascamerger, BSI mengalokasikan 25% laba bersih sebagai dividen dengan nilai Rp757,05 miliar atau Rp18,41 per saham.
