STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp429,55 miliar pada 2025. Angka ini mengalami penurunan sebesar 19,85% jika dibandingkan perolehan tahun 2024 sebesar Rp535,94 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Desember 2025 yang dikutip Kamis (26/3/2026), laba per saham Perseroan ikut menyusut. Nilainya menjadi Rp28,40 per saham dari sebelumnya Rp36,11 per saham di tahun 2024.
Meskipun laba bersih terkoreksi, pendapatan neto emiten pengelola Rumah Sakit Hermina ini sebenarnya tumbuh 6,20%. HEAL mengantongi pendapatan sebesar Rp7,13 triliun pada 2025, naik dari Rp6,72 triliun pada periode tahun sebelumnya.
Layanan rumah sakit tetap menjadi motor penggerak utama bisnis Perseroan. Kontribusi terbesar berasal dari rawat inap sebesar Rp4,32 triliun dan rawat jalan sebesar Rp2,60 triliun. Adapun pendapatan dari sektor non-rumah sakit tercatat sebesar Rp213,71 miliar.
Penurunan laba bersih dipicu oleh kenaikan sejumlah beban. Beban pokok pendapatan HEAL membengkak 10,23% menjadi Rp4,72 triliun dari sebelumnya Rp4,28 triliun. Hal ini menyebabkan laba bruto Perseroan sedikit terkikis menjadi Rp2,41 triliun.
Selain itu, beban usaha juga meningkat menjadi Rp1,47 triliun dari Rp1,40 triliun. Tekanan terhadap laba semakin kuat akibat kenaikan biaya keuangan dan administrasi bank sebesar 33,13% menjadi Rp238,44 miliar. Kondisi ini membuat laba usaha Perseroan turun menjadi Rp967,04 miliar dari Rp1,06 triliun pada tahun sebelumnya.
Dilihat dari kekuatan neraca, Medikaloka Hermina memiliki posisi keuangan yang tetap bertumbuh. Total aset Perseroan per Desember 2025 mencapai Rp11,89 triliun. Angka ini meningkat 12,38% dibandingkan posisi Desember 2024 sebesar Rp10,58 triliun.
Peningkatan aset didorong oleh kenaikan aset tetap neto menjadi Rp8,26 triliun dan uang muka pembelian aset tetap sebesar Rp874,89 miliar. Sementara itu, total liabilitas Perseroan tercatat sebesar Rp4,68 triliun dengan total ekuitas mencapai Rp7,21 triliun pada akhir tahun 2025.
