STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) memberikan penjelasan resmi terkait penurunan kinerja keuangan perusahaan. Hal ini disampaikan manajemen sebagai tanggapan atas permintaan penjelasan dari Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025, emiten berkode saham DSSA ini mencatatkan penurunan pendapatan dan laba. Pendapatan usaha tercatat sebesar USD 2,02 miliar. Angka ini turun 9,94% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sejalan dengan itu, laba periode berjalan juga mengalami koreksi. DSSA membukukan laba sebesar USD 275,11 juta, merosot 37,48% secara tahunan (Year on Year). Manajemen mengungkapkan penyebab utama penurunan ini adalah kondisi pasar komoditas.
“Faktor utama yang menyebabkan penurunan pendapatan dan laba periode berjalan Perseroan adalah penurunan harga dan volume penjualan batu bara,” tulis Susan Chandra, Corporate Secretary DSSA, dalam surat penjelasannya tertanggal 14 Januari 2026.
Meski demikian, manajemen DSSA tetap optimistis menatap tahun 2026. Perusahaan tengah gencar melakukan transformasi bisnis menuju energi baru terbarukan (EBT) dan infrastruktur digital. Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan pada bisnis batu bara.
Dalam sektor energi hijau, DSSA mempercepat pengembangan proyek panas bumi. Perusahaan membidik target operasi komersial pada tahun 2029.
“Perseroan melalui entitas anak mempercepat transisi energi baru dan terbarukan melalui proyek-proyek panas bumi (Cipanas, Cisolok, dan Nage dengan total kapasitas sebesar 140 MW dan memiliki target commercial operation date pada tahun 2029) dan pengembangan energi surya,” jelas manajemen dalam surat tersebut.
Selain energi, sektor digital menjadi fokus utama. DSSA berencana melakukan aksi korporasi strategis berupa penggabungan usaha (merger) anak usahanya. Langkah ini diharapkan mampu memperbesar skala bisnis dan arus kas di luar sektor batu bara.
“Perseroan menargetkan kinerja positif melalui ekspansi bisnis digital seperti rencana penggabungan usaha PT Eka Mas Republik dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) untuk mendapatkan skala bisnis yang lebih besar, serta arus kas non-batu bara lebih tinggi,” ungkap manajemen DSSA.
Di sisi operasional pertambangan, DSSA melakukan efisiensi ketat. Salah satu strateginya adalah elektrifikasi armada operasional. Penggunaan kendaraan listrik (EV) untuk alat berat dan armada pengangkutan (hauling) mulai diterapkan.
Langkah ini diyakini bakal memangkas biaya operasional secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
“Estimasi penghematan untuk tahun 2026 s/d 2029 diperkirakan mencakup sekitar USD 0,7/ton – USD 2,0/ton,” tambah manajemen.
Terkait pelepasan aset, DSSA juga menjelaskan transaksi penjualan aset pembangkit listrik pada April 2024 lalu. Aset tersebut dilepas kepada pihak afiliasi, yakni PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Pindo Deli Pulp and Paper Mills (PIDL).
Manajemen menegaskan tidak ada perkara hukum material yang sedang dihadapi perusahaan saat ini. DSSA memastikan seluruh informasi penting yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup perusahaan dan harga saham telah disampaikan kepada publik sesuai peraturan yang berlaku.
