STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga emas dunia menguat pada penutupan perdagangan Selasa (31/3/2026) waktu setempat. Meskipun naik, logam mulia ini mencatatkan kinerja bulanan terburuk dalam lebih dari satu dekade. Ketidakpastian arah perang Amerika Serikat (AS) dengan Iran terus membayangi pasar.
Mengutip CNBC International, harga emas berjangka melonjak lebih dari 2% ke posisi USD 4.678,60 per ons troi. Harga emas spot juga terpantau naik 3,61% menjadi USD 4.672,96 per ons troi.
Sepanjang Maret, harga emas merosot lebih dari 10%. Penurunan ini menjadi rekor jatuh bulanan terbesar sejak Juni 2013. Catatan negatif tersebut sekaligus memutus tren kenaikan harga selama delapan bulan berturut-turut.
Logam mulia lainnya, perak, mengalami nasib serupa meski naik 6% ke level USD 74,92 pada perdagangan harian. Harga perak anjlok lebih dari 19% sepanjang Maret 2026. Ini merupakan performa bulanan terburuk perak sejak tahun 2011.
Walaupun mencatat penurunan tajam di bulan Maret, emas dan perak masih menguat sepanjang kuartal ini. Emas tumbuh lebih dari 7% dan perak naik di atas 6%.
Konflik Timur Tengah yang memasuki minggu kelima memicu volatilitas tinggi. Presiden AS Donald Trump menyatakan kesediaannya mengakhiri aksi militer terhadap Iran. Langkah ini tetap dipertimbangkan walau Selat Hormuz masih dalam kondisi tertutup.
Trump menyebut Washington tengah melakukan diskusi serius dengan pejabat Iran. Namun ia mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan sumur minyak jika kesepakatan gagal tercapai. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperkirakan tujuan militer di Iran selesai dalam hitungan minggu.
Wayne Nutland, Manajer Investasi Shackleton Advisers, menilai pola perdagangan emas telah berubah. Emas kini kembali ke hubungan tradisionalnya dengan dolar AS dan imbal hasil obligasi.
“Imbal hasil obligasi dan dolar AS keduanya bergerak lebih tinggi, dan dengan latar belakang ini emas telah menunjukkan sensitivitas terbalik tradisionalnya terhadap metrik ini, sehingga jatuh sebagai hasilnya,” ujar Wayne Nutland.
Iain Barnes, Chief Investment Officer Netwealth, menyoroti keterlibatan investor finansial yang memicu volatilitas. Harga emas bergerak dua kali lipat lebih liar dari level historisnya dalam beberapa bulan terakhir.
“Tahun ini, pasar kembali menemukan di mana investor paling terekspos: posisi berlebihan pada emas karena dianggap sebagai satu-satunya aset safe haven yang tersisa,” kata Iain Barnes.
Analis Goldman Sachs tetap optimis terhadap masa depan emas. Mereka memprediksi harga emas mencapai USD 5.400 per ons troi pada akhir 2026.
Faktor pendorongnya meliputi diversifikasi cadangan devisa oleh bank sentral dunia. Goldman Sachs juga melihat potensi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve sebesar 50 basis poin. Kondisi geopolitik di Greenland dan Venezuela diperkirakan ikut memperkuat permintaan emas dalam jangka menengah.
