Mau IPO, Laba Bersih Prodia Diagnostic Line (PRDL) Melesat 69,93% pada 2025
STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) berencana melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui mekanisme Penawaran Umum Perdana (PUP) atau Initial Public Offering (IPO). PRDL...
STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) berencana melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui mekanisme Penawaran Umum Perdana (PUP) atau Initial Public Offering (IPO).
PRDL menawarkan sebanyak-banyaknya 522.900.000 saham baru. Jumlah tersebut setara dengan 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Perseroan memasang kisaran harga penawaran sebesar Rp100 sampai Rp120 per saham. Dengan demikian, PRDL berpotensi meraup dana segar maksimal Rp62,74 miliar.
Masa penawaran awal atau bookbuilding berlangsung mulai 18 Juni hingga 23 Juni 2026. Otoritas jasa Keuangan (OJK) akan menerbitkan pernyataan efektif pada 29 Juni 2026. Penjatahan saham PRDL dan distribusi saham secara elektronik dilakukan masing-masing pada 07 dan 08 Juli 2026. Saham PRDL akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 09 Juli 2026. PT Sucor Sekuritas ditunjuk sebagai penjamin pelaksana emisi efek.
Mengintip laporan keuangan PRDL yang dipublikasikan dalam prospektus rencana IPO saham, Kamis (18/6/2026), Perseroan mencatat kenaikan laba bersih yang signifikan sepanjang 2025. Perseroan membukukan laba sebesar Rp16,99 miliar. Angka ini melonjak 69,93% jika dibandingkan perolehan 2024 sebesar Rp10 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan auditan 2025, pendapatan PRDL mencapai Rp74,37 miliar. Realisasi ini naik 26,79% dari Rp58,66 miliar pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan volume penjualan dan ekspansi jaringan distribusi.
Segmen Kimia Klinik menjadi kontributor utama pendapatan. Produk ini menyumbang Rp60,38 miliar atau 81,19% dari total pendapatan. Selain itu, segmen instrumen memberikan kontribusi sebesar Rp8,83 miliar.
“Peningkatan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya volume penjualan seiring dengan ekspansi jaringan distribusi dan basis pelanggan Perseroan,” ujar Cristina Sandjaja, Direktur Utama PRDL dikutip dari prospektus awal IPO di Jakarta, Kamis (18/6/2026)..
Cristina menambahkan jumlah distributor meningkat signifikan. Dari 21 distributor pada 2024 menjadi 45 distributor pada 2025. Perseroan juga mencatat peningkatan jumlah pelanggan baru.
Seiring kenaikan pendapatan, beban pokok penjualan juga naik 20,33% menjadi Rp29,02 miliar. Hal ini dipicu oleh kenaikan biaya langsung terkait peningkatan aktivitas penjualan. Perseroan tetap mampu mencetak laba bruto sebesar Rp45,35 miliar. Nilai ini tumbuh 31,31% secara year on year (yoy).
Beban usaha tercatat Rp24,18 miliar atau naik 54,17% dari Rp15,69 miliar pada 2024. Kenaikan ini terjadi karena peningkatan biaya pemasaran, distribusi, dan biaya tenaga kerja. Sementara itu, beban bunga atau biaya keuangan turun 11,29% menjadi Rp2,28 miliar.
Dari sisi neraca, total aset PRDL per Desember 2025 mencapai Rp194,43 miliar. Posisi ini tumbuh 5,62% dibandingkan aset 2024 sebesar Rp184,08 miliar. Kenaikan aset terutama berasal dari penambahan aset tidak lancar berupa bangunan fasilitas produksi baru di Cikarang.
Total liabilitas perseroan turun 5,54% menjadi Rp111,37 miliar. Penurunan ini terjadi karena pembayaran sebagian kewajiban pinjaman bank jangka panjang. Di sisi lain, ekuitas perusahaan menguat 25,51% menjadi Rp83,06 miliar.
PRDL juga mencatatkan rasio keuangan yang sehat. Tingkat pengembalian ekuitas (ROE) berada di posisi 20,45%. Tingkat pengembalian aset (ROA) tercatat 8,74%. Perseroan memiliki rasio lancar sebesar 2,14 kali. Kondisi ini menunjukkan kekuatan likuiditas perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek.