STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup bervariasi pada akhir perdagangan Kamis sore (29/1/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (30/1/2026) WIB. Indeks S&P 500 dan Nasdaq tertekan oleh anjloknya saham Microsoft. Di sisi lain, indeks Dow Jones berhasil parkir di zona hijau.
Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York menguat 55,96 poin atau 0,11% ke level 49.071,56. Indeks S&P 500 (SPX) tergelincir 0,13% dan berakhir di posisi 6.969,01. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, merosot 0,72% menjadi 23.685,12.
Microsoft menjadi beban utama pasar dengan penurunan sekitar 10%. Pencapaian ini menjadi hari terburuk bagi raksasa teknologi tersebut sejak Maret 2020. Investor bereaksi negatif setelah anggota “Magnificent Seven” ini melaporkan perlambatan pertumbuhan bisnis cloud pada kuartal kedua fiskal. Perusahaan juga mengeluarkan panduan margin operasional yang lemah untuk kuartal ketiga fiskal.
Penurunan saham software lainnya menambah beban kerugian pasar. Investor mengkhawatirkan kecerdasan buatan (AI) akan mengganggu model bisnis Microsoft. Saham ServiceNow merosot sekitar 10% meskipun mencatat pendapatan kuartal keempat yang melampaui ekspektasi. Saham Oracle dan Salesforce juga masing-masing turun 2% dan 6%.
iShares Expanded Tech-Software Sector ETF (IGV) kini masuk ke wilayah pasar bearish. Dana yang melacak kinerja sektor software ini turun sekitar 5% dalam sehari. Angka tersebut menempatkannya hampir 22% di bawah level tertinggi barunya. Penurunan ini mencatatkan rekor kejatuhan harian terbesar sejak April tahun lalu.
Rob Williams, Chief Investment Strategist di Sage Advisory, memberikan pandangannya terhadap fenomena ini. Ia menilai ekspektasi terhadap teknologi AI mulai berubah.
“AI telah menjadi seperti pedang bermata dua di sini. Ia menjadi kontributor pertumbuhan dan pengeluaran. Ia juga menjadi kontributor mengapa penilaiannya seperti sekarang ini,” ujar Williams kepada CNBC.
Williams menambahkan tantangan bagi sektor ini semakin besar. Kepercayaan investor sangat bergantung pada rilis data yang konsisten.
“Sekarang, ada lebih banyak pertanyaan tentang itu, jadi menjadi lebih sulit baginya untuk terus menyampaikan berita positif,” tambah Williams.
Fokus pasar kini tertuju pada Apple yang akan merilis laporan keuangan setelah penutupan perdagangan. Williams mencatat perusahaan teknologi megacap butuh angka yang sangat luar biasa untuk mendorong sentimen positif. Diversifikasi menjadi kunci utama bagi investor ke depan.
“Laba adalah jalan menuju pengembalian yang baik bagi pasar ekuitas tahun ini, karena kelipatan tidak memiliki banyak ruang untuk berkontribusi,” tuturnya. “Keluasan pasar membaik, namun kita masih sangat terkonsentrasi.”
Meski pasar teknologi tertekan, saham Meta Platforms melonjak lebih dari 10%. Induk Facebook ini memberikan proyeksi penjualan kuartal pertama yang lebih kuat dari perkiraan. Saham Caterpillar juga naik lebih dari 3% setelah mencatat hasil kuartal keempat yang melampaui estimasi pasar.
Dari sisi politik, Senat AS gagal meloloskan pemungutan suara prosedural terkait paket pendanaan pemerintah. Hal ini meningkatkan risiko penutupan pemerintahan (shutdown) federal pada minggu ini. Shutdown akan mulai berlaku pada Sabtu pukul 00:01 waktu setempat jika undang-undang pendanaan tidak segera disahkan.
Kondisi pasar aset kripto juga terpukul. Harga bitcoin merosot lebih dari 5%. Angka tersebut menyentuh level terendahnya dalam hampir dua bulan terakhir.
