STOCKWATCH.ID (JAKARTA)- PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) pada Rabu, 7 Januari 2026 memulai operasi produksi tambang batubara milik anak usahanya yakni PT Arthaco Prima Energy (APE) di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.
Hal ini ditandai acara seremoni penggalian pertama atau 1st digging ceremony pada 7 Januari 2026. Adapun Izin Usaha pertambangan Operasi Produksi (IUP-OP) milik (APE) tersebut berlokasi di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.
Direksi IATA dalam keterangan tertulis, Rabu 7 Januari 2026 menjelaskan, dengan dimulainya operasi produksi APE menandai tonggak kunci percepatan produksi batu bara perseroan dan menyokong target awal sekitar 3 juta ton produksi pada 2026. Dalam jangka menengah, IATA berpotensi meningkatkan produksi hingga 7 juta ton per tahun seiring dengan peningkatan skala operasional.
Suryo Eko Hadianto, Direktur Utama IATA mengatakan, kolaborasi strategis dengan KPP Mining memperkuat fundamental teknis dan operasional IATA serta meletakan landasan kuat untuk pertumbuhan produksi yang signifikan di masa datang.
“Momentum 1st digging ceremony menegaskan komitmen IATA bersama kontraktor untuk merealisasikan target produksi yang ambisius, sekaligus menciptakan nilai keberlanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.
Sebelumnya, IATA melalui anak usahanya, PT Arthaco Prima Energy (APE) telah menandatangani perjanjian kerjasama jasa pertambangan batubara dengan PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining), anak perusahaan PT United Tractors Tbk (UNTR) pada tanggal 23 Desember 2025. Nilai kontrak APE dengan KPP Mining Rp5 triliun dengan periode kerja sama 5 tahun dan berlaku efektif pada Januari 2026.
Berdasarkan perjanjian kerjasama tersebut, KPP Mining akan bertindak selaku kontraktor pertambangan di Wilayah Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP-OP) APE yang berlokasi di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.
Surya mengatakan, selama masa kontrak, target produksi batubara ditetapkan mencapai 33,6 juta metric ton (MT) dengan target produksi pada tahun pertama (2026) sebesar 3 juta MT atau dengan total material yang akan dikelola selama periode kerjasama mencapai 140,9 juta bank cubic meters (BCM). (konrad)
