STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Pasar obligasi Indonesia menunjukkan ketahanan kuat di tengah gejolak global dan domestik sepanjang 2025. Kondisi ini dinilai bukan kebetulan, melainkan bersifat struktural.
Direktur Utama Mandiri Sekuritas Oki Ramadhana mengatakan, pasar obligasi nasional tetap resilien meski dibayangi ketegangan tarif AS, risiko geopolitik, hingga dinamika politik dalam negeri.
“Ketahanan pasar ini bersifat struktural, bukan kebetulan,” ujar Oki di Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Ia menjelaskan, imbal hasil (yield) INDOGB tenor 10 tahun sempat turun ke bawah 6% atau sekitar 100 basis poin (bps) sepanjang 2025. Penurunan yield ini memberi keuntungan tambahan bagi investor.
Sepanjang 2025, investor mencatat total return 12,6% dari investasi di pasar obligasi. Selain menerima kupon, investor juga menikmati capital gain seiring turunnya yield.
Struktur kepemilikan juga berubah signifikan. Saat ini, kepemilikan asing di pasar obligasi hanya 13% dari total outstanding. Sebelum pandemi Covid-19, porsinya sempat menyentuh 40%.
Menurut Oki, dominasi investor domestik membuat pasar lebih stabil dan tidak mudah tertekan arus modal asing.
Untuk 2026, Mandiri Sekuritas mengambil sikap netral terhadap prospek pasar obligasi. Ruang penurunan yield dinilai semakin terbatas.
Ada tiga faktor utama yang menjadi pertimbangan. Pertama, yield saat ini sudah rendah dengan spread INDOGB terhadap US Treasury (UST) menyempit ke rekor terendah di bawah 200 bps.
Kedua, siklus pemangkasan suku bunga Bank Indonesia diperkirakan segera berakhir. Tambahan pelonggaran hanya sekitar 25–50 bps, sehingga suku bunga acuan berpotensi berada di kisaran 4,25–4,5% pada semester II 2026.
Ketiga, risiko peningkatan pasokan Surat Berharga Negara (SBN). Pembiayaan fiskal lebih bergantung pada penerbitan obligasi pemerintah di tengah menurunnya penggunaan Saldo Anggaran Lebih (SAL), kebutuhan investasi yang meningkat, serta berkurangnya program pinjaman eksternal.
Mandiri Sekuritas memperkirakan yield SBN tenor 10 tahun akan bergerak dalam kisaran sempit 5,80–6,20% sepanjang 2026. Proyeksi ini menggunakan asumsi suku bunga BI di level 4,25% dan yield UST 10 tahun sekitar 3,8%. Asumsi lain, tidak terjadi penurunan peringkat utang dan rating tetap di level Baa2 atau BBB.
“Imbal hasil tahun depan lebih didorong carry dibanding capital gain,” kata Oki.
Terkait revisi outlook negatif oleh Moody’s, Oki menilai langkah itu tidak otomatis berujung pada penurunan peringkat.
Ia menegaskan, kemampuan bayar utang Indonesia masih solid. Defisit fiskal terjaga dan rasio utang terhadap PDB relatif rendah.
Indonesia pernah mengalami revisi outlook negatif dari S&P Global Ratings pada April 2020. Dampaknya ke pasar obligasi sangat terbatas. Bahkan, yield kembali turun satu bulan setelah pengumuman.
Kondisi serupa juga terjadi di Thailand dan Rumania saat Moody’s merevisi outlook pada 2025. Dampaknya terhadap pasar obligasi dinilai minim.
“Kuncinya, outlook negatif ini tidak berujung downgrade rating,” ucap Oki.
