back to top

PEFINDO Turunkan Rating Utang PTPP jadi idBBB+, Ini Penyebabnya!

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) memangkas peringkat utang PT PP (Persero) Tbk (PTPP). Peringkat emiten konstruksi pelat merah ini turun dari sebelumnya idA/stabil menjadi idBBB+ dengan prospek negatif.

Penurunan peringkat ini disampaikan manajemen PTPP dalam keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kamis (15/1/2026).

PEFINDO juga menurunkan peringkat untuk beberapa instrumen utang perseroan. Instrumen tersebut meliputi Sukuk Berkelanjutan I, Obligasi Berkelanjutan III, dan Obligasi Berkelanjutan IV.

Agus Purbianto, Direktur Keuangan PTPP menjelaskan alasan penurunan peringkat ini. Ia menyebut hal ini terjadi akibat risiko pembiayaan kembali (refinancing) yang meningkat.

“Sesuai dengan rilis yang dikeluarkan oleh Pefindo, pemeringkatan ini merupakan dampak gabungan dari meningkatnya risiko refinancing Perseroan terkait surat utang yang akan jatuh tempo di tengah akses pendanaan yang semakin menantang di industri konstruksi domestik, sehingga menekan likuiditas dan membatasi fleksibilitas keuangan Perseroan,” ujar Agus dalam surat resminya.

Agus menambahkan, terdapat utang yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat. Hal ini menjadi sorotan utama lembaga pemeringkat.

“Jatuh tempo surat utang terdekat di tanggal 11 April 2026 merupakan risiko kredit jangka pendek utama, dan berdampak negatif pada kemampuan PTPP mengatasi situasi tersebut dalam mengelola lebih jauh profil kredit Perusahaan,” lanjut Agus.

Dalam sertifikat pemeringkatan yang diterbitkan PEFINDO pada 14 Januari 2026, peringkat idBBB+ berlaku untuk periode 14 Januari 2026 hingga 1 Maret 2026.

PEFINDO memberikan catatan khusus terkait arti peringkat idBBB.

“Efek utang dengan peringkat idBBB mengindikasikan parameter proteksi yang memadai dibandingkan efek utang Indonesia lainnya. Walaupun demikian, kondisi ekonomi yang buruk atau keadaan yang terus berubah akan dapat memperlemah kemampuan emiten untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjang atas efek utang,” tulis PEFINDO dalam laporannya.

Adapun instrumen yang terdampak antara lain Obligasi Berkelanjutan IV PTPP senilai Rp3 triliun. Selain itu, terdapat Obligasi Berkelanjutan III Tahap I Tahun 2021 Seri B, Tahap II Tahun 2022 Seri B, serta Obligasi Berkelanjutan IV Tahap I Tahun 2024 senilai total Rp1,48 triliun.

Untuk instrumen syariah, penurunan peringkat menjadi idBBB+(sy) berlaku bagi Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2021 Seri B dan Tahap II Tahun 2022 Seri B senilai Rp405 miliar.

Meski peringkat turun, manajemen PTPP memastikan kewajiban kepada pemegang surat utang tetap terpenuhi. Perseroan baru saja melunasi pembayaran bunga (kupon) pada awal Januari 2026.

“Terkait kewajiban Perseroan kepada para pemegang surat utang, sampai dengan saat ini Perseroan masih mampu memenuhi kewajibannya,” tegas Agus.

Sebagai bukti, PTPP telah membayar bunga ke-11 Obligasi Berkelanjutan III PTPP Tahap III Tahun 2023 pada 9 Januari 2026. Nilai pembayaran tercatat sebesar Rp11,08 miliar.

Pada tanggal yang sama, PTPP juga membayar bagi hasil Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I PTPP Tahap III Tahun 2023 senilai Rp2,78 miliar.

Manajemen PTPP menerima keputusan pemeringkatan ini sebagai hal yang wajar dalam dinamika perusahaan.

“Hal ini sepenuhnya merupakan hak lembaga pemeringkat dan Perseroan sepenuhnya menerima peringkat yang telah dikeluarkan tersebut, dimana naik atau turunnya peringkat kredit pada suatu perusahaan adalah hal yang wajar mengikuti dinamika kondisi suatu perusahaan dan hal ini tidak bersifat tetap,” tutup Agus.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Tiga Obligasi Baru Melantai Bareng di BEI, Total Emisi 2026 Tembus Rp40,51 Triliun

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)  - Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali kedatangan...

IHSG Rontok 7,89% Sepekan, Investor Asing Tarik Dana Rp7,29 Triliun Sepanjang 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)  - Kinerja pasar saham Indonesia sedang lesu...

Taspen Makin Agresif Serok Saham, BBNI hingga WTON Jadi Pilihan Utama

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)  - PT Taspen (Persero) terus memperkuat portofolio...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru