back to top

Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Tewas, Dunia di Ambang Perang Besar?

STOCKWATCH.ID (TEHERAN) – Dunia internasional diguncang kabar tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Media pemerintah Iran mengonfirmasi kabar ini setelah serangan udara besar-besaran oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu (28/2/2026). Serangan mematikan tersebut menyasar ibu kota Teheran dan berbagai titik strategis lainnya.

Mengutip The Guardian, Presiden AS Donald Trump menyebut kematian Khamenei sebagai bentuk keadilan bagi rakyat Iran. Ia kembali menegaskan dukungannya terhadap perubahan rezim di negara tersebut. Pengumuman ini disampaikan Trump melalui platform media sosial miliknya tak lama setelah serangan terjadi.

Gempuran udara ini tidak hanya merenggut nyawa Khamenei. Yudisial Iran mengonfirmasi dua tokoh militer penting lainnya juga gugur. Mereka adalah Komandan Garda Revolusi Jenderal Mohammad Pakpour dan Kepala Dewan Pertahanan Nasional Ali Shamkhani.

Dampak kemanusiaan dari operasi militer ini sangat memilukan. Organisasi hak asasi manusia HRANA melaporkan sedikitnya 133 warga sipil tewas. Sebanyak 200 warga sipil lainnya mengalami luka-luka akibat gempuran yang terjadi di 18 provinsi.

Laporan Bulan Sabit Merah Iran memberikan angka yang lebih mengerikan. Mereka mencatat lebih dari 200 kematian dan 747 orang cedera di 24 provinsi. Kota Teheran menjadi wilayah dengan jumlah insiden tertinggi dalam operasi yang digambarkan sebagai serangan multi-gelombang berskala besar.

Target serangan dilaporkan mencakup area pemukiman, tempat kerja, hingga fasilitas pendidikan. Sebuah serangan udara menghantam sekolah dasar di wilayah Minab, Iran Tenggara. Insiden tragis ini dilaporkan menewaskan sedikitnya 100 orang.

Duta Besar Iran untuk PBB, Amir-Saeid Iravani melontarkan tuduhan keras dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB. Ia menyebut Donald Trump telah berbohong untuk membenarkan perang yang melanggar hukum. Iran menegaskan hak mereka untuk melakukan pembelaan diri atas kejahatan perang ini.

Garda Revolusi Iran langsung bersumpah akan melancarkan serangan balasan paling dahsyat sepanjang sejarah. Mereka menargetkan pangkalan militer Israel dan Amerika Serikat di seluruh kawasan Timur Tengah. Iran mulai meluncurkan rudal balistik ke arah Israel dan negara-negara tetangga yang menampung fasilitas militer AS.

Situasi di kawasan kini semakin tidak terkendali. Di Tel Aviv, satu orang tewas dan 22 lainnya terluka akibat hantaman rudal Iran. Uni Emirat Arab juga terkena dampak dengan laporan ledakan di bandara Dubai dan Abu Dhabi serta kebakaran di hotel mewah Burj Al Arab.

Kekacauan meluas ke sektor transportasi udara global. Wilayah udara di Israel, Qatar, Suriah, Iran, Irak, Kuwait, dan Bahrain telah ditutup total. Lebih dari 1.000 penerbangan oleh maskapai besar Timur Tengah terpaksa dibatalkan secara mendadak.

Data penerbangan menunjukkan sekitar 90.000 penumpang setiap harinya kini terdampar di pusat transit seperti Dubai dan Doha. Maskapai Emirates, Qatar Airways, dan Etihad berhenti beroperasi sementara. Banyak pesawat internasional terpaksa dialihkan ke bandara lain demi menghindari zona tempur.

Di tengah kekosongan kekuasaan, kepemimpinan Iran diambil alih oleh dewan sementara. Dewan ini terdiri dari Presiden Iran, Kepala Yudisial, dan anggota Dewan Garda. Sesuai hukum Iran, Majelis Ahli harus segera memilih penerus Pemimpin Tertinggi dalam waktu sesingkat mungkin.

Reaksi dunia terus mengalir deras. China menyampaikan kekhawatiran mendalam dan mendesak semua pihak segera melakukan gencatan senjata. Kementerian Luar Negeri China meminta kedaulatan dan integritas wilayah Iran tetap dihormati oleh semua pihak.

Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer memimpin rapat darurat menanggapi krisis ini. Ia mengonfirmasi pesawat tempur Inggris telah dikerahkan ke udara di Timur Tengah. Langkah ini diklaim sebagai bagian dari operasi pertahanan regional untuk melindungi aset dan sekutu mereka.

Dewan Keamanan PBB kini berada di bawah tekanan besar untuk meredakan situasi. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyesalkan hilangnya kesempatan untuk jalur diplomasi. Dunia kini menanti apakah ketegangan ini akan berlanjut menjadi perang terbuka yang lebih luas.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Timur Tengah Memanas, Maskapai Global Batalkan Penerbangan ke Dubai Hingga Doha

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Serangan militer besar-besaran Amerika Serikat (AS)...

Perang Pecah di Timur Tengah, RI Siap Mediasi dan Presiden Bersedia ke Teheran

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Pemerintah Indonesia menyatakan keprihatinan mendalam atas...

Wall Street Ditutup Bervariasi, Saham Nvidia Anjlok Lebih Dari 5% 

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru