back to top

Perang AS-Iran Makin Panas, Bursa Saham Eropa Rontok Berjamaah

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah tajam pada akhir perdagangan Selasa (3/3/2026) waktu setempat. Pergerakan negatif ini mengikuti memanasnya konflik di Timur Tengah. Sentimen penghindaran risiko melanda para investor global akibat perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Mengutip CNBC International, indeks Stoxx Europe 600 yang berisi saham-saham utama di Eropa berakhir turun 3,2% ke posisi 604,44. Hampir semua sektor dan bursa utama di kawasan tersebut berada di zona merah. Indeks CAC 40 Perancis turun 3,46% ke level 8.103,84. FTSE MIB Italia anjlok 3,92% ke posisi 44.468,46. Indeks FTSE 100 Inggris merosot 2,75% ke level 10.484,13. DAX Jerman jatuh 3,44% ke posisi 23.790,65. Sementara itu, IBEX 35 Spanyol melemah paling tajam hingga 4,55% ke level 17.062,40.

Aksi jual melanda berbagai sektor saham. Sektor perbankan merosot 4,3%. Saham asuransi turun 3,6%. Sektor utilitas juga anjlok 4,4%. Indeks Dirgantara dan Pertahanan Stoxx ikut terseret turun hampir 3%. Padahal indeks ini berisi jajaran perusahaan pertahanan terbesar di kawasan tersebut.

Saham perjalanan dan rekreasi jatuh 2%. Penutupan wilayah udara di Timur Tengah memaksa maskapai penerbangan di seluruh dunia membatalkan ribuan jadwal penerbangan.

Harga minyak mentah global melonjak selama dua hari berturut-turut. Konflik AS-Iran mengancam infrastruktur minyak dan berisiko memicu inflasi harga bahan bakar.

Mengutip laporan Reuters dari media Iran, seorang komandan Garda Revolusi Iran menyebut Selat Hormuz kini ditutup. Iran mengancam akan membakar kapal-kapal yang nekat melewati rute transit minyak mentah paling vital di dunia tersebut.

Konflik ini telah memasuki hari keempat tanpa titik terang penyelesaian. Petinggi militer AS mengumumkan penambahan pasukan ke wilayah tersebut pada hari Senin.

Presiden AS Donald Trump memprediksi perang ini akan berlangsung empat hingga lima minggu. Namun ia juga memperingatkan kemungkinan lain terkait durasi konflik. “Jauh lebih lama dari itu,” ucap Trump.

Uni Eropa menyerukan penurunan ketegangan. Mereka meminta semua pihak menahan diri secara maksimal dan melindungi nyawa warga sipil.

Dari sisi ekonomi, data awal Eurostat mencatat inflasi zona euro naik menjadi 1,9% pada Februari. Angka ini naik dari 1,7% pada bulan Januari. Pencapaian ini masih sedikit di bawah target 2% Bank Sentral Eropa. Para pembuat kebijakan kini memantau ketat potensi volatilitas harga energi.

Di sektor korporasi, raksasa pertahanan Perancis Thales merilis laporan keuangan setahun penuh. Pesanan perusahaan menyamai rekor tahun 2024 sebesar 25,3 miliar euro (USD 29,41 miliar). Penjualan melonjak 7,6% menjadi 22,1 miliar euro. Laba bersih juga naik 6% menjadi 2 miliar euro.

Divisi dirgantara dan pertahanan menjadi motor utama pertumbuhan Thales. Perusahaan mengamankan 28 pesanan besar bernilai 7,75 miliar euro pada tahun 2025. Meski kinerjanya positif, saham Thales di bursa Paris tetap ditutup turun 2,4%.

Sementara itu, saham manajer investasi asal Inggris Aberdeen amblas 10,5%. Penurunan harga saham terjadi pada penghujung hari. Padahal dana kelolaan perusahaan melonjak 9% menjadi 556 miliar poundsterling (USD 739 miliar). Aberdeen memperkirakan laba operasional setahun penuh 2025 sejalan dengan ekspektasi pasar.

Analis Citi memberikan catatan terkait penundaan pemulihan aliran dana ke unit Penasihat Aberdeen hingga tahun 2027. Target pertumbuhan tahunan 5% hingga 10% untuk generasi modal bersih dinilai sangat mengecewakan. “Jauh di bawah konsensus,” tulis analis Citi.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Wall Street Terguncang Konflik Iran, Indeks Dow Jones Sempat Anjlok 1.200 Poin

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Wall Street Berhasil Rebound, Investor Borong Saham Teknologi di Tengah Konflik Iran

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Perang Timur Tengah Berkecamuk, Bursa Saham Eropa Rontok Berjamaah

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru