STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia ditutup melonjak pada akhir perdagangan Jumat (13/3/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (14/3/2026) WIB. Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan global akibat perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei naik 2,68 USD atau 2,67%. Harga minyak acuan global ini berakhir pada level 103,14 USD per barel, di London ICE Futures Exchange. Ini merupakan sesi kedua berturut-turut Brent bertahan di atas level 100 USD.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 2,98 USD atau 3,11%. Minyak WTI ditutup pada posisi 98,71 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.
Konflik bersenjata tersebut kini telah memasuki minggu ketiga. Infrastruktur minyak di kawasan tersebut berada dalam risiko besar. Selat Hormuz yang menjadi jalur pasokan energi terbesar dunia juga masih tertutup.
Badan Energi Internasional (IEA) pada hari Minggu mengumumkan langkah darurat. Lebih dari 400 juta barel cadangan minyak akan segera dialirkan ke pasar. Langkah ini menjadi rekor pelepasan cadangan terbesar untuk melawan lonjakan harga.
Stok minyak dari wilayah Asia Oseania akan dilepas segera. Sementara itu, cadangan dari Eropa dan Amerika baru tersedia pada akhir Maret mendatang. IEA menyebut pasokan global diperkirakan turun 8 juta barel per hari pada bulan ini.
Presiden AS Donald Trump mendesak para sekutu mengerahkan kapal perang. Hal ini bertujuan mengamankan pintu masuk strategis di kawasan tersebut. Trump juga mengancam akan meluncurkan serangan tambahan ke pusat ekspor minyak Pulau Kharg di Iran.
Ancaman tersebut muncul usai AS menghantam target militer di lokasi itu pada hari Sabtu. Pihak Teheran merespons dengan sikap menantang dan melakukan serangan balasan. Drone Iran dilaporkan menghantam terminal minyak utama di Fujairah, Uni Emirat Arab (UEA).
Natasha Kaneva, analis dari JP Morgan, memberikan pandangannya terhadap peristiwa tersebut. Menurutnya, serangan terhadap terminal di UEA menunjukkan situasi yang kian memanas.
“Ini menandai eskalasi dalam konflik,” ujar Natasha Kaneva.
Analis JP Morgan juga menyebut fasilitas energi di Teluk lainnya berada dalam posisi sangat rentan. Terminal ekspor Ras Tanura di Arab Saudi serta fasilitas pemrosesan minyak Abqaiq kini masuk dalam daftar risiko tinggi.
Menteri Energi AS Chris Wright ikut memberikan tanggapannya pada hari Minggu. Ia optimis konflik ini tidak akan berlangsung terlalu lama.
“Minggu-minggu berikutnya,” kata Chris Wright terkait kapan dirinya memperkirakan perang dengan Iran akan berakhir.
Wright menambahkan pasokan minyak akan kembali pulih setelah konflik usai. Biaya energi juga diprediksi akan menurun secara bertahap. Namun, hingga saat ini pihak Iran belum menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan perlawanan.
Iran menolak kemungkinan gencatan senjata sebelum serangan AS dan Israel dihentikan. Di sisi lain, pemerintahan Trump juga menampik upaya negosiasi diplomatik dari sekutu Timur Tengah. Situasi ini membuat harapan akan berakhirnya perang dalam waktu dekat semakin redup.
Operasi pemuatan minyak di Fujairah sendiri dilaporkan telah dimulai kembali. Terminal ini mengelola sekitar 1 juta barel minyak mentah Murban per hari. Jumlah tersebut setara dengan 1% dari total permintaan minyak dunia.
