back to top

Perang Iran Meluas ke Ladang Gas, Bursa Saham Eropa Terperosok 2,4%

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada akhir perdagangan Kamis (19/3/2026) waktu setempat. Pergerakan ini dipicu oleh eskalasi perang Iran yang semakin intensif. Investor juga tengah mencermati keputusan suku bunga terbaru dari berbagai bank sentral di kawasan tersebut.

Mengutip CNBC International, indeks Stoxx Europe 600 yang berisi saham-saham utama di Eropa berakhir turun 2,4% ke posisi 583,64. Seluruh bursa utama dan hampir semua sektor berada di zona merah. Indeks CAC 40 Perancis merosot 2,03% ke level 7.807,87. FTSE MIB Italia jatuh 2,32% ke posisi 43.701,38.

Indeks FTSE 100 Inggris melemah 2,35% ke level 10.063,50. DAX Jerman anjlok 2,82% ke posisi 22.839,56. Sementara itu, IBEX 35 Spanyol berkurang 2,27% ke level 16.905,90.

Sektor pertambangan memimpin kerugian dengan penurunan mencapai 4,2%. Pelemahan ini mengikuti aksi jual tajam pada harga spot emas dan perak yang masing-masing turun 4,7% dan 8%. Raksasa tambang Antofagasta dan Fresnillo masing-masing ditutup turun 5,7% dan 7,4%.

Kekhawatiran inflasi dan kenaikan harga energi mulai menggerus margin keuntungan para produsen. Di sisi lain, perusahaan minyak Norwegia, Equinor, justru melonjak 11%. Perusahaan mencatat laba operasional sebesar USD 27,6 miliar dan menemukan ladang minyak baru di dekat Lingkaran Arktik.

Ketegangan geopolitik meningkat setelah Israel menyerang ladang gas South Pars di Iran. Teheran membalas dengan serangan rudal ke terminal gas alam cair Ras Laffan di Qatar. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan peringatan keras atas insiden ini.

Trump mengancam akan mengambil tindakan militer jika Iran terus menargetkan fasilitas energi Qatar. Amerika Serikat disebut akan “meledakkan seluruh Ladang Gas South Pars secara besar-besaran.” Pernyataan ini membuat harga minyak kembali melambung tinggi.

Bank sentral di Eropa juga mengumumkan kebijakan moneter terbaru pada Kamis ini. Konflik Iran kini mendominasi pandangan para pembuat kebijakan terkait pertumbuhan dan inflasi. Bank Sentral Eropa (ECB) memutuskan untuk tidak mengubah suku bunga utamanya.

Bank of England (BoE) tetap mempertahankan suku bunga pada level 3,75%. Keputusan ini diambil secara bulat oleh sembilan anggota komite kebijakan moneter. Riksbank Swedia menjaga suku bunga di level 1,75%, sedangkan Bank Nasional Swiss bertahan di posisi 0,0%.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Inggris bertenor 10 tahun naik menjadi 4,875% setelah keputusan BoE. Yield obligasi 2 tahun juga melonjak 37 basis poin ke level 4,478%. Tren kenaikan yield ini juga terjadi pada obligasi pemerintah Jerman.

Di bursa AS, indeks saham ikut mengalami tekanan pada perdagangan Kamis. Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 0,7%. Indeks S&P 500 turun 0,6% dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,7%.

Laporan harga produsen yang lebih tinggi dari perkiraan memicu kekhawatiran stagflasi di AS. Ekonomi negara tersebut terancam mengalami pertumbuhan rendah dengan tekanan harga yang tinggi. Kondisi ini turut memberikan sentimen negatif bagi pasar saham global.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Tersengat Sentimen The Fed dan Konflik Iran, Bursa Saham Asia Berguguran

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik kompak...

Wall Street Memerah, Indeks Dow Jones Anjlok 768 Poin Akibat Kekhawatiran Inflasi

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru