back to top

Perang Membara dan Iran Tutup Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Terbang Lebih dari 8%

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak lebih dari 8% pada akhir perdagangan Senin (2/3/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (3/3/2026) WIB. Pelaku pasar ketakutan perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran akan lepas kendali. Kondisi ini diprediksi memicu gangguan pasokan besar-besaran.

Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent melompat 6,65 USD atau 9%. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 79,45 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 5,72 USD atau 8,4%. Minyak WTI berakhir pada posisi 72,74 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.

Harga ini merupakan level penutupan tertinggi sejak Juni 2025. Saat itu, AS dan Israel mengebom fasilitas nuklir Iran. Harga minyak sempat melesat lebih dari 12% pada awal sesi. Kenaikan sedikit mereda sebelum sesi ditutup.

Kenaikan harga kembali berlanjut setelah penutupan pasar. Laporan Reuters mengutip pernyataan komandan Garda Revolusi Iran. Selat Hormuz kini ditutup. Pihak Iran akan membakar kapal mana pun jika mencoba melintas.

Gelombang besar serangan udara dilancarkan AS dan Israel pada akhir pekan. Serangan ke Iran ini menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Beberapa pejabat tinggi Republik Islam lainnya turut tewas.

Sosok penerus pemimpin negara produsen minyak terbesar keempat OPEC ini belum jelas. Reaksi pasar minyak sangat bergantung pada durasi perang. Pasar menyoroti potensi gangguan lalu lintas maritim jangka panjang. Selat Hormuz merupakan titik sempit paling vital di dunia bagi perdagangan minyak global.

Analis UBS, Henri Patricot, memberikan catatan kepada kliennya pada hari Minggu terkait situasi krisis ini.

“Kami memandang kecepatan pemulihan lalu lintas melalui Hormuz dan tingkat pembalasan Iran sebagai kunci bagi harga minyak dalam beberapa hari ke depan,” ujar Patricot.

Presiden Donald Trump menegaskan operasi tempur akan terus berlanjut. AS bertekad mencapai seluruh tujuannya. Sebelumnya, Trump membuka kemungkinan de-eskalasi demi menghindari gangguan berkepanjangan. AS siap berdialog dengan Iran.

Trump memberikan pernyataannya kepada The Atlantic pada hari Minggu.

“Mereka ingin berbicara, dan saya telah setuju untuk berbicara, jadi saya akan berbicara dengan mereka,” kata Trump.

Trump juga berbicara kepada CNBC mengenai progres militernya. Ia menyebut operasi militer AS di Iran berjalan lebih cepat dari jadwal.

Kepala Keamanan Iran, Ali Larijani, justru menolak negosiasi. Serangan gabungan AS dan Israel dinilai menyeret seluruh kawasan ke dalam perang tidak perlu. Mantan penasihat mendiang pemimpin tertinggi ini menulis sebuah pesan tegas di media sosial.

“Kami tidak akan bernegosiasi dengan Amerika Serikat,” tulis Larijani.

Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz sudah terhenti. Perusahaan pelayaran mulai mengambil langkah pencegahan. Kondisi ini diungkapkan oleh firma konsultan Rystad Energy. Matt Smith, analis minyak di firma konsultan energi Kpler, memberikan gambarannya.

“Sepertinya tidak ada yang lewat saat ini – kapal tanker benar-benar ketakutan,” ucap Smith.

Selat ini sangat krusial bagi dunia. Rata-rata lebih dari 14 juta barel per hari melewati selat tersebut pada 2025. Angka ini setara sekitar sepertiga total ekspor minyak mentah lintas laut dunia. Sekitar tiga perempat ekspor tersebut mengalir ke China, India, Jepang, dan Korea Selatan.

Analis Barclays memprediksi harga minyak Brent bisa menyentuh 100 USD per barel. Skenario ini terjadi jika situasi keamanan Timur Tengah terus memburuk. Analis UBS bahkan melihat potensi gangguan material ekstrem. Harga spot Brent bisa menembus level 120 USD per barel.

Analis Barclays, Amarpreet Singh, memberikan peringatan keras kepada para klien.

“Bagaimana ini berakhir sangat tidak pasti pada titik ini tetapi sementara itu pasar minyak harus menghadapi ketakutan terburuk mereka,” terang Singh. “Dampak potensial pada pasar minyak sulit untuk dilebih-lebihkan.”

Ekspor minyak Iran juga berpotensi runtuh. Ada ketidakpastian mengenai pemegang kendali kekuasaan di Taheran. Kerusuhan domestik dan pemogokan pekerja di pelabuhan turut mengancam. Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, menyoroti masalah ini. Saat ini, Iran memproduksi sekitar 3,3 juta barel per hari.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Ketakutan Perang Timur Tengah Memuncak, Harga Emas Dunia Makin Berkilau

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia kembali mencetak sejarah...

Selat Hormuz Lumpuh Imbas Perang, Harga Minyak Mentah AS Diprediksi Tembus USD 70 Pagi Ini

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga minyak mentah dunia diprediksi...

Harga Emas Dunia Mendekati Puncak Satu Bulan, Berpotensi Terus Melaju ke USD 5.450

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia melonjak mendekati level...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru