back to top

Perang Timur Tengah Memanas, Saham Penerbangan Asia Berguguran Saat Energi Pesta Pora

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik kompak jatuh berguguran pada penutupan perdagangan Senin (2/3/2026). Investor merespons negatif eskalasi konflik berdarah di Timur Tengah. Saham maskapai penerbangan menjadi beban utama indeks regional akibat penutupan wilayah udara.

Mengutip CNBC International, indeks Hang Seng di Hong Kong memimpin kejatuhan di Asia. Indeks ini merosot 2,14% dan berakhir di level 26.059,85. Indeks Nikkei 225 Jepang juga tergelincir 1,35% menjadi 58.057,24. Sementara itu, indeks Topix ikut melemah 1,02% ke posisi 3.898,42.

Koreksi juga melanda pasar saham India. Indeks Nifty 50 terkikis 1,24% ke level 24.865,70. Anomali justru terjadi pada pasar saham China di tengah tren penurunan global. Indeks CSI 300 di China daratan mampu naik 0,38% dan ditutup pada angka 4.728,67.

Bursa Australia juga berhasil mencatat hasil positif. Indeks S&P/ASX 200 naik tipis ke level 9.200,90. Penguatan kuat pada sektor minyak dan tambang emas sukses menahan laju penurunan indeks ini. Di sisi lain, bursa saham Korea Selatan tidak beroperasi karena libur nasional.

Sektor penerbangan menjadi korban utama kepanikan pasar hari kemarin. Gangguan operasional bandara di Timur Tengah memicu aksi jual investor. Potensi lonjakan biaya bahan bakar juga menjadi ketakutan tersendiri bagi pelaku pasar.

Saham Singapore Airlines langsung anjlok lebih dari 5%. Kondisi serupa dialami maskapai asal Jepang. Saham ANA dan JAL kompak merosot lebih dari 5%. Saham Cathay Pacific asal Hong Kong juga turun 4,2%. Saham Qantas Australia dan Eva Air Taiwan ikut jatuh lebih dari 4%.

Ketakutan pasar ini tidak lepas dari membesarnya skala perang. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas terbunuh. Konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini memasuki babak baru. Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan tegas terkait situasi militer pada hari Minggu.

“Operasi tempur di Iran akan terus berlanjut setelah tiga anggota militer AS tewas,” tegas Trump.

Kondisi geopolitik ini memicu gejolak hebat di pasar komoditas. Harga minyak mentah berjangka melompat tinggi hingga 8%. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan pada level USD 72,92 per barel. Minyak mentah Brent juga melesat ke posisi USD 79,79 per barel. Harga emas berjangka ikut naik 2,43% seiring perburuan aset aman oleh investor.

Lonjakan harga minyak mentah justru membawa angin segar bagi emiten energi Asia. Saham Woodside Energy di Australia meroket hingga 5%. Saham Inpex di Jepang juga mencetak kenaikan serupa. Saham China National Offshore Oil Corporation di Hong Kong ikut merangkak naik lebih dari 3%.

Saham sektor pertahanan regional turut menangguk untung dari situasi ini. Tiga perusahaan Jepang kompak mencatat rapor hijau. Saham Mitsubishi Heavy Industries, Kawasaki Heavy Industries, dan IHI naik antara 0,47% hingga lebih dari 2%. Saham ST Engineering di Singapura juga tumbuh 3%.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Wall Street Berhasil Rebound, Investor Borong Saham Teknologi di Tengah Konflik Iran

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Perang Timur Tengah Berkecamuk, Bursa Saham Eropa Rontok Berjamaah

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada...

Inflasi Memanas dan Ancaman AI Bikin Cemas, Indeks Dow Jones Anjlok 500 Poin

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru