STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) atau PERMINAS menjalin kolaborasi strategis dengan New Energy Metals Holdings Ltd (NEM). Kerja sama ini mendapat dukungan penuh dari Danantara Indonesia selaku lembaga pengelola investasi strategis nasional. Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) tersebut berlangsung pada Senin (16/2/2026).
Kesepakatan ini menetapkan kerangka kerja untuk mengevaluasi potensi sumber daya niobium dan rare earth elements (REE) atau logam tanah jarang. Lokasi proyek hulu berada di Maboumine, Republik Gabon. Sementara itu, inisiatif rantai nilai hilirnya akan dikembangkan di Indonesia.
Danantara Indonesia berperan memastikan kerja sama ini selaras dengan agenda hilirisasi nasional. Lembaga ini juga akan memperkuat rantai pasok mineral kritis melalui potensi pembiayaan dan investasi strategis bersama PERMINAS. Langkah ini bertujuan membangun industri manufaktur lanjutan yang berdaya saing global.
Chief Executive Officer Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, memberikan pandangannya terkait masa depan industri nasional. Ia menilai akses terhadap input strategis sangat krusial bagi pertumbuhan industri.
“Kerangka kerja sama ini selaras dengan ambisi tersebut dan mendukung pengembangan rantai nilai mineral kritis strategis yang berorientasi masa depan,” ujar Rosan, dalam siaran pers dikutip Rabu (18/2/2026).
Kepala Badan Industri Mineral (BIM), Brian Yuliarto, turut memberikan apresiasi. Menurutnya, momen ini menandai fase baru keterlibatan Indonesia dalam industri mineral kritis tingkat dunia.
“Kolaborasi dengan NEM mencerminkan meningkatnya kapasitas industri Indonesia serta kepercayaan mitra internasional terhadap potensi mineral kritis Indonesia,” tutur Brian Yuliarto.
Kerja sama ini mencakup pengembangan sumber daya, pemrosesan, hingga manufaktur tingkat lanjut. Indonesia diposisikan sebagai platform pemrosesan hilir dan integrasi industri. Hal tersebut sesuai dengan mandat PERMINAS dan prioritas industri nasional.
President Director (CEO) PERMINAS, Gilarsi Wahju Setijono, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendorong tujuan strategis nasional. Ia melihat peluang besar dalam menghubungkan potensi hulu dengan penciptaan nilai di hilir.
“MoU ini menciptakan jalur yang terstruktur untuk menilai peluang yang menghubungkan potensi sumber daya hulu dengan penciptaan nilai hilir,” kata Gilarsi Wahju Setijono.
Material kritis seperti niobium dan logam tanah jarang kini semakin esensial. Keduanya merupakan komponen kunci bagi kendaraan listrik (EV) dan energi terbarukan. Selain itu, material ini sangat dibutuhkan dalam industri kedirgantaraan serta pertahanan tingkat lanjut.
Para pihak telah membentuk Joint Working Group untuk mempercepat program kerja sama. Rantai pasok yang akan dibangun meliputi pemisahan, pemurnian, hingga produksi magnet permanen. Tujuannya adalah menciptakan produk akhir magnet yang kompetitif dari sumber daya yang ada.
Seiring proses teknis, para pihak memulai negosiasi jalur cepat terkait potensi pembiayaan. PERMINAS dan Danantara Indonesia berpeluang melakukan partisipasi ekuitas atau utang pada tambang Maboumine. Proses ini akan didukung oleh uji tuntas yang dipercepat sesuai ketentuan regulasi.
President New Energy Metals Holdings Ltd, Abduljabbar Alsayegh, menyambut antusias kemitraan ini. Ia menilai agenda hilirisasi Indonesia sangat penting bagi transisi energi global dan kepemimpinan teknologi.
“Kami mengapresiasi visi nasional Indonesia dalam memajukan rantai nilai mineral kritis dan rare earth strategis,” tutup Abduljabbar Alsayegh.
