STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA) hampir menuntaskan penggunaan dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO). Hingga 31 Desember 2025, emiten manufaktur ini telah menyerap dana sebesar Rp90,75 miliar.
Imanuel Kevin Mayola, Direktur Utama PIPA, menyampaikan laporan realisasi tersebut dalam keterbukaan informasi. Dari aksi korporasi ini, PIPA berhasil mencatat hasil bersih sebesar Rp93,75 miliar. Adapun hasil kotor IPO PIPA mencapai Rp97,12 miliar dikurangi biaya emisi Rp3,37 miliar.
Realisasi penggunaan dana paling besar dialokasikan untuk pembelian mesin dan fasilitas produksi. Perusahaan telah membelanjakan Rp39,76 miliar untuk kebutuhan tersebut. Awalnya, rencana awal untuk pos ini adalah sebesar Rp41,78 miliar.
Selanjutnya, PIPA menyerap Rp27,82 miliar untuk modal kerja perusahaan. Nilai ini sudah sesuai 100% dengan rencana awal yang ditetapkan dalam prospektus.
Untuk pembangunan fasilitas pabrik baru, PIPA telah menggunakan dana sebesar Rp13,17 miliar. Jumlah ini masih di bawah rencana awal yang sebesar Rp19,29 miliar.
Menariknya, realisasi pembayaran pokok utang mencapai Rp10 miliar. Angka ini melonjak dari rencana awal yang hanya sebesar Rp3 miliar. Imanuel menyebutkan adanya kemungkinan perubahan rencana penggunaan sisa dana tersebut.
“Perseroan telah melakukan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan terkait posibilitas rencana perubahan dana sisa IPO pada tanggal 17 Juni 2025.” ujar Imanuel dalam laporan keterbukaan informasi dikutip Sabtu (24/1/2026).
Sementara itu, untuk pos pembelian kendaraan operasional belum ada dana yang terserap sama sekali atau Rp0. Padahal dalam rencana awal, perusahaan menganggarkan dana sebesar Rp1,85 miliar.
Saat ini, sisa dana IPO PIPA tercatat sebesar Rp3 miliar. Dana tersebut kini ditempatkan di Bank OCBC dengan tingkat bunga 1,5%. Jangka waktu penyimpanan sisa dana ini adalah selama 12 bulan.
Terkait biaya penawaran umum sebesar Rp3,37 miliar, PIPA merincinya secara detail. Biaya jasa penjaminan dan pengelolaan masing-masing sebesar Rp350 juta. Biaya jasa penjualan tercatat Rp800 juta.
Biaya jasa profesi penunjang pasar modal menjadi yang terbesar yakni Rp1,19 miliar. Ada juga biaya lembaga penunjang Rp100 juta, jasa konsultasi keuangan Rp80 juta, dan biaya lainnya mencapai Rp500 juta.
