STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia bergerak naik pada perdagangan Jumat (16/1/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (17/1/2026) WIB. Risiko gangguan pasokan kembali menjadi perhatian utama pasar. Hal ini terjadi meski kemungkinan serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran mulai mereda.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent menguat 37 sen atau 0,58%. Harganya ditutup pada level USD 64,13 per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 25 sen atau 0,42% menjadi USD 59,44 per barel, di New York Mercantile Exchange.
Dengan penutupan tersebut, Brent mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 2%. Sementara itu, WTI membukukan kenaikan 1,4% sepanjang pekan ini.
Sempat menyentuh level tertinggi harian dengan kenaikan lebih dari USD 1, investor terus menimbang potensi gangguan pasokan jika ketegangan di Timur Tengah memanas.
Giovanni Staunovo, analis UBS, memberikan pandangannya terkait situasi ini.
“Meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah mereda, namun belum hilang, dan pelaku pasar tetap khawatir tentang potensi gangguan pasokan,” ujar Giovanni.
Kedua acuan harga minyak ini sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa bulan pada pekan ini. Pemicunya adalah protes di Iran dan sinyal serangan militer dari Presiden AS Donald Trump.
Namun, harga sempat anjlok lebih dari 4% pada Kamis. Penurunan terjadi setelah Trump menyebut tindakan keras Teheran terhadap pengunjuk rasa mulai mereda. Hal ini mengurangi kekhawatiran akan aksi militer yang dapat mengganggu pasokan minyak.
Analis Commerzbank menyoroti peran penting jalur distribusi di kawasan tersebut dalam sebuah catatan.
“Di atas segalanya, ada kekhawatiran tentang kemungkinan blokade Selat Hormuz oleh Iran jika terjadi eskalasi, yang melaluinya sekitar seperempat pasokan minyak lintas laut mengalir,” tulis analis Commerzbank.
Mereka juga menambahkan faktor lain yang bisa mempengaruhi pasar ke depan.
“Jika ada tanda-tanda pelonggaran yang berkelanjutan di sisi ini, perkembangan di Venezuela kemungkinan akan kembali menjadi sorotan, dengan minyak yang baru-baru ini dikenai sanksi atau diblokir secara bertahap mengalir ke pasar dunia,” lanjut catatan tersebut.
Di sisi lain, analis memperkirakan pasokan akan lebih tinggi tahun ini. Kondisi ini berpotensi membatasi kenaikan harga akibat risiko geopolitik.
Priyanka Sachdeva, analis Phillip Nova, menilai kondisi pasar secara fundamental masih cukup aman.
“Meskipun ada risiko geopolitik dan spekulasi makro yang terus-menerus, keseimbangan yang mendasarinya masih menunjukkan pasokan yang melimpah,” kata Priyanka.
Ia juga memprediksi pergerakan harga minyak ke depan masih akan terbatas pada rentang tertentu.
“Kecuali jika kita melihat kebangkitan permintaan China yang nyata atau hambatan yang berarti dalam aliran barel fisik, minyak terlihat terikat dalam kisaran tertentu, dengan Brent secara umum berada di antara USD 57 dan USD 67,” tutup Priyanka.
