STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) mencatatkan perbaikan kinerja keuangan sepanjang tahun buku 2025. Perseroan berhasil menekan rugi bersih menjadi Rp1,29 triliun. Angka ini menyusut 15,17% dibandingkan rugi bersih tahun 2024 sebesar Rp1,53 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2025 yang dirilis Jumat (13/3/2026), penurunan rugi ini terjadi di tengah sedikit tekanan pada sisi pendapatan. Pendapatan usaha CMPP tercatat sebesar Rp7,87 triliun pada 2025. Perolehan tersebut turun tipis 0,88% dari Rp7,94 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kontributor utama pendapatan Perseroan masih berasal dari penjualan kursi penerbangan sebesar Rp6,63 triliun. Sumber pendapatan lainnya berasal dari layanan bagasi sebesar Rp1,00 triliun, pelayanan penerbangan Rp108,38 miliar, kargo Rp70,95 miliar, dan charter Rp31,88 miliar.
Meski pendapatan menurun, perusahaan mampu memperbaiki kinerja operasional. Hal ini terlihat dari rugi usaha yang berkurang menjadi Rp644,59 miliar pada 2025 dari Rp790,39 miliar pada 2024, atau membaik sekitar 18,44% secara year on year.
Perbaikan tersebut dipengaruhi oleh penurunan sejumlah biaya operasional. Total beban usaha Perseroan turun menjadi Rp8,52 triliun pada 2025, dari sebelumnya Rp8,73 triliun pada 2024.
Bahan bakar masih menjadi komponen biaya terbesar Perseroan mencapai Rp3,16 triliun. Namun, angka ini sudah lebih rendah dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp3,45 triliun. Di sisi lain, beberapa pos biaya masih mengalami kenaikan. Beban perbaikan dan pemeliharaan meningkat menjadi Rp2,06 triliun dari Rp1,66 triliun. Adapun gaji dan tunjangan karyawan sebesar Rp728,32 miliar. Sementara itu, beban pemasaran juga naik menjadi Rp455,57 miliar dari Rp422,61 miliar pada tahun sebelumnya.
Selain itu, perusahaan mencatat beban keuangan sebesar Rp439,66 miliar pada 2025, meningkat dibanding Rp424,34 miliar pada 2024. Sementara rugi selisih kurs dari aktivitas pendanaan tercatat Rp207,81 miliar.
Dari sisi neraca, total aset AirAsia Indonesia per Desember 2025 tercatat sebesar Rp5,05 triliun. Jumlah ini mengalami penurunan 11,71% dibandingkan posisi akhir tahun 2024 sebesar Rp5,72 triliun.
Di sisi lain, liabilitas atau utang Perseroan meningkat menjadi Rp15,79 triliun dari sebelumnya Rp15,15 triliun. Kondisi ini membuat defisiensi modal atau ekuitas negatif Perseroan membengkak menjadi Rp10,73 triliun pada akhir 2025, dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar Rp9,43 triliun.
Dalam laporannya, manajemen CMPP mengungkapkan strategi pemulihan bisnis untuk menjaga keberlangsungan usaha. Langkah ini dilakukan mengingat adanya ketidakpastian material terkait kelangsungan usaha (going concern).
“Manajemen Grup terus memonitor perkembangan situasi dan melakukan berbagai macam usaha untuk mendorong pemulihan,” tulis Raden Achmad Sadikin, Direktur Utama CMPP, dan Luh Gede Mega Putri Tjatera, Direktur CMPP, dalam surat pernyataan direksi.
Perseroan telah menyiapkan sejumlah rencana strategis. Beberapa di antaranya adalah melanjutkan efisiensi biaya, negosiasi ulang kontrak sewa pesawat, hingga optimalisasi kapasitas rute penerbangan yang menguntungkan.
Selain itu, maskapai ini akan fokus meningkatkan pendapatan dari bisnis kargo, charter, dan pendapatan tambahan (ancillary). Perseroan juga secara proaktif mencari peluang pendanaan eksternal untuk memperkuat permodalan dan kelincahan operasional.
Sebagai informasi, pada 16 Januari 2026, pemegang saham pengendali yakni Capital A Berhad telah mengumumkan rencana restrukturisasi strategis. Capital A akan mengalihkan seluruh aktivitas bisnis penerbangannya, termasuk investasi di AirAsia Aviation Group Limited yang membawahi CMPP, kepada AirAsia X Berhad (AAX).
CMPP merupakan perusahaan penerbangan yang beroperasi melalui entitas anak PT Indonesia AirAsia. Perusahaan menjadi bagian dari AirAsia Aviation Group Limited dengan induk utama Capital A Berhad, Malaysia.
