back to top

Salip Apple, Valuasi Induk Google Alphabet Tembus USD 4 Triliun Berkat AI

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Induk perusahaan Google, Alphabet, mencetak sejarah baru di pasar keuangan pada Senin (12/1/2026) waktu setempat. Nilai kapitalisasi pasar perusahaan ini resmi menembus angka USD 4 triliun untuk pertama kalinya.

Mengutip The Guardian, pencapaian luar biasa ini membawa Alphabet menyalip Apple. Kini Alphabet menduduki posisi sebagai perusahaan paling berharga kedua di dunia. Alphabet menjadi perusahaan keempat yang berhasil menyentuh tonggak sejarah USD 4 triliun.

Sebelumnya, rekor ini diraih oleh Nvidia yang sempat menyentuh USD 5 triliun, Microsoft, dan Apple. Lonjakan harga saham Alphabet terjadi setelah munculnya pengumuman besar dari pihak Apple.

Apple resmi memilih model AI milik Google, Gemini, untuk memperkuat asisten digital Siri. Teknologi ini akan ditanamkan pada setiap perangkat iPhone. Siri bakal mendapatkan perombakan besar menggunakan kecerdasan buatan tersebut.

Hingga saat ini, kedua perusahaan belum membocorkan nilai kontrak kerja sama tersebut. Apple memberikan penjelasan resmi mengenai alasan pemilihan teknologi besutan Google ini.

“Setelah evaluasi yang cermat, kami menentukan teknologi Google menyediakan fondasi yang paling mumpuni untuk Model Fondasi Apple,” tulis pihak Apple dalam pernyataannya kepada CNBC.

Saham Alphabet terus menunjukkan tren kenaikan yang sangat pesat. Sepanjang tahun 2025, harga sahamnya sudah melonjak sekitar 65%. Kinerja ini mengungguli kelompok saham elit “Magnificent Seven” lainnya di Wall Street.

Investor kini sangat optimis terhadap strategi kecerdasan buatan milik Alphabet. Rasa ragu para pemodal mulai hilang setelah peluncuran berbagai produk unggulan dalam beberapa bulan terakhir.

Alphabet merilis versi terbaru model AI Gemini dan pembuat gambar Nano Banana. Di sisi lain, pesaing utamanya yakni OpenAI justru tampil kurang memuaskan. Peluncuran GPT-5 milik OpenAI dinilai tidak memenuhi ekspektasi pasar.

Unit bisnis Google Cloud juga bertransformasi menjadi mesin pertumbuhan utama perusahaan. Pendapatan unit ini melonjak 34% pada kuartal ketiga. Nilai kontrak penjualan yang belum diakui pun meroket ke angka USD 155 miliar.

Pertumbuhan pesat ini menarik minat investasi dari tokoh legendaris Warren Buffett melalui Berkshire Hathaway. Google kini mulai menyewakan chip AI buatannya sendiri kepada pelanggan luar. Sebelumnya, chip tersebut hanya digunakan untuk kepentingan internal perusahaan.

Sementara itu, bisnis iklan tetap menjadi penyumbang pendapatan terbesar. Kinerja Google Search dan YouTube tetap stabil di tengah ketidakpastian ekonomi global. Google sukses menghadapi persaingan ketat di pasar periklanan digital.

Meskipun sukses besar, Alphabet masih menghadapi dua tuntutan antimonopoli di Amerika Serikat. Pada kasus pertama, hakim memutuskan Google tidak perlu memecah perusahaan. Hal ini membuat Google tetap bisa mengendalikan Chrome dan Android.

Namun, pada kasus kedua, hakim memutuskan Google melakukan monopoli pasar iklan secara ilegal. Persidangan untuk menentukan solusi atas masalah ini sudah dimulai sejak September. Hakim memiliki kewenangan memaksa Google melepas sebagian bisnis iklannya demi menciptakan persaingan yang sehat.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Perang Timur Tengah Makin Panas, Bursa Saham Eropa Rontok Berjamaah

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada...

Abaikan Perang Iran, Wall Street Melesat Berjamaah! Indeks Dow Jones Lompat 200 Poin Lebih

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru