STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak lebih dari 2% pada akhir perdagangan Selasa (16/3/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (17/3/2026) WIB. Kenaikan ini dipicu oleh keraguan pasar terhadap kemampuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membentuk koalisi pengawalan kapal tanker di Selat Hormuz.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei naik 3,21 USD atau 3,2%. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 103,42 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) meningkat 2,71 USD atau 2,9%. Minyak WTI berakhir pada posisi 96,21 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.
Pasar bereaksi terhadap ketidakpastian pembentukan pasukan pelindung pelayaran di rute vital tersebut. Trump mengisyaratkan melalui media sosial, sekutu NATO tidak ingin berpartisipasi dalam perang AS melawan Iran. Ia pun menegaskan AS tidak memerlukan bantuan dari para sekutunya.
Sebelumnya, AS terus mendesak para sekutu mengirim pasukan militer guna melindungi lalu lintas tanker. Arus pergerakan kapal di Selat Hormuz merosot tajam pasca serangan Iran. Situasi ini memicu salah satu gangguan pasokan minyak global terbesar dalam sejarah.
Warren Patterson, Head of Commodities Strategy di ING, menyoroti sulitnya mencari jalan keluar atas masalah ini. “Skala gangguan pasokan minyak yang begitu besar membuat pasar sulit menemukan solusi yang memadai,” ujar Warren Patterson.
Menurut Patterson, rencana pengawalan laut masih belum menunjukkan hasil nyata. “Meskipun pemerintahan AS telah melontarkan ide jaminan asuransi dan pengawalan angkatan laut, keduanya belum terwujud,” tuturnya.
Ia menilai pengawalan kapal komersial di Selat Hormuz memiliki risiko tinggi. Kapal-kapal angkatan laut akan menjadi sasaran empuk serangan. AS kemungkinan menunggu hingga kemampuan Iran untuk menyerang kapal-kapal tersebut melemah sebelum bertindak lebih jauh.
Selat Hormuz merupakan jalur arteri utama bagi perdagangan minyak dunia yang terletak di antara Oman dan Iran. Berdasarkan data firma konsultan energi Kpler, sekitar 13 juta barel minyak per hari melewati jalur ini sepanjang 2025. Jumlah tersebut mencakup sekitar 31% dari seluruh pengiriman minyak mentah melalui jalur laut.
Direktur NEC Kevin Hassett memberikan sedikit kabar mengenai kondisi di lapangan. Ia menyebutkan sejumlah kapal tanker sudah mulai melewati Selat Hormuz kembali. Meski begitu, para pelaku pasar tetap waspada memantau perkembangan eskalasi konflik di wilayah tersebut.
