Stockwatch.id Versi penuh
Commodity

Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak di Atas USD 90

Oleh Daiz La Ode 02 Aug 2026 12:32 3 menit baca

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga minyak dunia ditutup menguat pada akhir perdagangan Jumat sore (31/7/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (1/8/2026).  Kenaikan ini dipicu oleh aksi Iran yang menyerang dua kapal tanker di Selat Hormuz.  Ketegangan geopolitik tersebut memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Mengutip CNBC, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September naik lebih dari 1% ke level USD 84,67 per barel. Minyak Brent, yang menjadi patokan internasional, juga menguat lebih dari 1% dan berakhir di posisi USD 90,12 per barel.

Meski menguat di akhir pekan, harga minyak mencatatkan penurunan lebih dari 5% dalam periode mingguan.  Penurunan tajam sempat terjadi pada Senin lalu karena adanya harapan konflik di Timur Tengah akan mereda.  Namun, situasi kembali memanas setelah serangan terbaru di jalur pelayaran vital tersebut.

Korps Garda Revolusi Islam Iran mengaku telah memukul kapal-kapal tanker tersebut.  Serangan dilakukan saat kapal mencoba melewati Selat Hormuz dengan pengawalan militer Amerika Serikat (AS).  Laporan media PressTV menyebutkan empat kapal tanker lainnya memilih putar balik setelah serangan terjadi.

Hingga saat ini, organisasi keamanan maritim AS dan Inggris belum mengonfirmasi serangan tersebut.  Namun, para pemimpin industri energi mulai menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap stabilitas pasar.

CEO Chevron, Mike Wirth, menilai ancaman terhadap pasokan minyak di kawasan tersebut kini semakin meluas. Ia juga menyoroti kondisi persediaan minyak global yang terus merosot.

“Situasi ini sedang tertekan dan saya khawatir kondisi ini akan terus berlanjut,” ujar Wirth dalam wawancara dengan CNBC. “Kita kehabisan waktu. Setiap hari yang berlalu, situasi menjadi semakin sulit.”

Kondisi keamanan di jalur laut lainnya juga tidak menentu.  Kelompok Houthi di Yaman menyatakan embargo maritim terhadap Arab Saudi dan menyerang tanker di Laut Merah.  Selain itu, serangan pesawat tanpa awak merusak dua kapal gas alam cair (LNG) di pelabuhan Damietta, Mesir, pekan ini.

CEO Exxon, Darren Woods, menegaskan Selat Hormuz harus segera dibuka kembali.  Menurutnya, dunia sangat bergantung pada pasokan minyak Timur Tengah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Ini adalah jalur utama pasokan dunia yang mendukung pertumbuhan ekonomi di mana saja, jadi pada akhirnya barel-barel itu harus mengalir,” kata Woods dalam acara “Squawk Box” di CNBC. “Satu-satunya pertanyaan adalah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai resolusi sehingga selat dibuka dan produksi dapat kembali berjalan di Timur Tengah.”

Kenaikan harga minyak ini berdampak positif pada kinerja keuangan perusahaan migas raksasa.  Laba Exxon dan Chevron dilaporkan melonjak tajam pada kuartal kedua tahun ini.

Di belahan dunia lain, ketegangan juga terjadi di Laut Hitam.  Ukraina menargetkan infrastruktur energi Rusia yang mengancam ekspor minyak Kazakhstan melalui pipa Kaspia.

Dan Yergin, Vice Chairman S&P Global, menyebut banyak wilayah perairan kini menjadi arena perang minyak.  Mulai dari Teluk Persia, Laut Merah, Laut Mediterania, Laut Hitam, hingga Laut Baltik.

Masalah terbesar saat ini adalah ketersediaan produk olahan minyak.  Data S&P menunjukkan sekitar 6 juta barel per hari kapasitas kilang tidak beroperasi.  Rusia menghentikan ekspor diesel akibat serangan terhadap sistem kilangnya, sementara pasokan dari Timur Tengah terhambat di Selat Hormuz.

“Itu memengaruhi seluruh ekonomi,” ungkap Yergin. “Ini berdampak pada petani di Brasil yang harga dieselnya naik. Jadi, di situlah letak kesulitan saat ini.”


Topik terkait
harga minyak dunia Selat Hormuz minyak Brent WTI krisis energi