STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX) melalui unit filmnya, Folago Pictures, menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MOU) untuk melakukan co-investment dalam lebih dari 10 proyek film layar lebar. Kerja sama ini dilakukan bersama sejumlah studio besar Indonesia, antara lain Visinema Pictures, MVP Pictures, VMS Pictures, Tiger Wong Entertainment, dan KUY STUDIO.
Penandatanganan MOU berlangsung di Ritz-Carlton Kuningan, Jakarta, pada Kamis, 22 Januari 2026. Melalui pendekatan co-investment yang asset-light, perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan hingga 200%. Langkah ini juga diarahkan untuk membangun pipeline konten jangka menengah dengan struktur bisnis yang lebih berkelanjutan.
Acara tersebut dihadiri para pengambil keputusan utama dari masing-masing mitra. Mereka antara lain Angga Dwimas Sasongko dari Visinema Pictures, Raam Punjabi dan Vikas Chand Sharma dari MVP Pictures, Baim Wong dari Tiger Wong Entertainment, Sean Gelael dari KUY STUDIO, serta Tony Ramesh dari VMS Pictures.
Direktur Utama IRSX, Subioto Jingga, menyampaikan arah strategi perseroan dalam pengembangan ekosistem hiburan nasional.
“Folago hadir sebagai mitra yang berdiri di belakang para studio dan kreator—menyediakan modal, struktur bisnis, dan akses distribusi agar setiap proyek dapat tumbuh secara berkelanjutan. Ini bukan taruhan pada satu konten, melainkan pembangunan platform hiburan jangka panjang,” ujar Subioto.
Melalui struktur co-investment ini, IRSX membuka berbagai jalur monetisasi. Sumber pendapatan mencakup box office, hak distribusi domestik dan internasional, lisensi OTT, serta brand integration. Pendekatan ini dirancang untuk menciptakan revenue stream berulang yang tidak bergantung pada volatilitas event live.
Perseroan juga menilai skema ini dapat memperkuat daya tarik proyek film di mata mitra global. IRSX menargetkan pengembangan lebih dari 10 film layar lebar sepanjang 2026.
Dengan strategi tersebut, IRSX menegaskan perannya sebagai entertainment industry powerhouse. Perseroan tidak memosisikan diri sebagai studio kreatif yang bersaing langsung, melainkan sebagai platform hiburan terdiversifikasi yang mengalokasikan modal, berbagi risiko, serta membuka akses monetisasi lintas kanal.
Pipeline ini menghubungkan film, live entertainment, digital content, talent economy, dan teknologi dalam satu ekosistem terintegrasi. Jika konsistensi eksekusi terjaga, strategi ini dinilai berpotensi mempercepat pertumbuhan pendapatan sekaligus membuka ruang re-rating valuasi IRSX di pasar modal.
