STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE) mengungkapkan adanya minat dari perusahaan investasi yang berencana masuk ke perseroan.
Direktur Utama SMLE, Siu Min, menjelaskan pihaknya sudah menerima surat minat dari investor. Namun detail terkait identitas dan nilai investasi belum bisa diumumkan karena masih dalam tahap negosiasi.
“Beberapa minggu yang lalu kami sampaikan ke Bursa memang ada ketertarikan dari perusahaan investasi ini untuk berinvestasi ke SMLE. Jadi kami sudah menerima surat minat tersebut, tetapi untuk saat ini detail mengenai investor, identitasnya seperti apa, nilai investasinya seperti apa, belum dapat kami umumkan karena masih dalam proses negosiasi dan bersifat belum final,” ujar Siu Min, dalam paparan publik insidentil ditulis Kamis (2/10/2025).
Ia menambahkan perusahaan akan menyampaikan informasi resmi setelah kesepakatan tercapai. “Yang diharapkan semoga dalam beberapa minggu ke depan kita sudah ada kesepakatan dengan pihak tersebut,” lanjutnya.
Terkait strategi bisnis, SMLE menegaskan fokus utama tetap pada produk unggulan dan speciality. Perusahaan juga berupaya meningkatkan laba melalui efisiensi biaya keuangan dan operasional. “Saat ini memang fokus kami itu adalah memperbaiki operasional dan menghasilkan profit yang sebesar-besarnya,” tegas Siu Min.
Meski akuisisi dan ekspansi bisnis masuk dalam pertimbangan, langkah tersebut belum menjadi prioritas dalam waktu dekat.
Untuk 2026, SMLE menargetkan pengembangan bisnis baru di berbagai lini, termasuk chemical, food ingredient, hingga kosmetik. “Karena memang kami perusahaan trading, terutama di chemical, untuk di food ingredient, juga ada kosmetik, di mana bisnis ini kan setiap hari, setiap tahun selalu bertumbuh. Jadi memang market di situ cukup baik,” kata Siu Min.
Ia optimistis peluang di sektor tersebut masih terbuka lebar sehingga SMLE akan menambah supplier dan produk yang bisa dipasarkan.
Siu Min juga mengungkapkan target perseroan di 2025. Tahun lalu SMLE mencatat pendapatan Rp224 miliar. Tahun ini perusahaan menargetkan pertumbuhan 10–15% meski sempat minus 4% di semester I. “Terus kemudian begitu juga laba bersih, mungkin tidak akan signifikan, tapi yang mungkin yang kita lihat akan signifikan itu adalah di 2026,” tutupnya.
