STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street berakhir variatif pada penutupan perdagangan Selasa pagi (27/1/2026) waktu setempat atau Rabu (28/1/2026) WIB. Indeks S&P 500 berhasil mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa. Penguatan ini didorong oleh reli saham-saham teknologi raksasa.
Mengutip CNBC International, indeks S&P 500 (SPX) naik 0,41% dan berakhir di posisi rekor 6.978,60. Indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, menguat 0,91% menjadi 23.817,10. Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York merosot 408,99 poin atau 0,83% ke level 49.003,41.
Indeks Dow Jones tertekan oleh penurunan tajam saham UnitedHealth yang anjlok hampir 20%. Saham perusahaan asuransi kesehatan lainnya juga berguguran. Hal ini terjadi setelah Centers for Medicare & Medicaid Services mengusulkan kenaikan pembayaran asuransi Medicare Advantage hanya sebesar rata-rata bersih 0,09% untuk tahun 2027. Saham Humana merosot 21% dan CVS Health kehilangan 14%.
Di sisi lain, sektor teknologi menjadi motor penggerak pasar. Saham Apple melaju lebih dari 1% dan Microsoft naik lebih dari 2%. Investor sedang menantikan laporan keuangan para raksasa teknologi pekan ini. Meta Platforms, Microsoft, dan Tesla dijadwalkan merilis kinerja pada Rabu waktu setempat. Apple akan menyusul pada hari Kamis.
Pasar juga mengantisipasi keputusan suku bunga pertama Federal Reserve (The Fed) tahun ini pada Rabu mendatang. Bank sentral AS diprediksi tetap mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5% hingga 3,75%. Pelaku pasar mencari petunjuk mengenai waktu pemangkasan suku bunga di masa depan. Data CME FedWatch Tool menunjukkan kemungkinan dua kali pemangkasan suku bunga sebesar seperempat poin pada akhir 2026.
Thomas Martin, Senior Portfolio Manager di Globalt Investments, memberikan analisanya. Fokus investor saat ini tertuju pada narasi kecerdasan buatan (AI) dan tingkat belanja perusahaan.
“Semua orang memperhatikan apa pun yang memberikan wawasan kepada Anda tentang narasi [kecerdasan buatan],” ujar Martin dalam wawancara dengan CNBC.
Menurut Martin, investor akan mencermati monetisasi AI dan pengeluaran modal perusahaan. Ia menilai minat investor terhadap teknologi ini tetap tinggi meski ada kekhawatiran mengenai valuasi dan gelembung teknologi.
“Semuanya akan berkisar pada komentar mengenai hal itu di samping jumlah uang yang mereka keluarkan, baik pada lini belanja modal maupun lini belanja operasional,” tambah Martin.
Martin meyakini tren AI masih memiliki umur panjang dalam beberapa tahun ke depan. Investasi pada pusat data dan model robotika diprediksi terus berkembang.
“AI tidak akan hilang. Pembangunan pusat data tidak akan hilang. Penggunaannya, penggunaan model, munculnya agen, robotika, dan lain-lain — semua hal itu akan terus melanjutkan lintasan penemuannya,” tegasnya.
Terkait dampak AI terhadap pasar ke depan, Martin memprediksi adanya fluktuasi namun tetap optimis. Gerakan pasar akan sangat bergantung pada penemuan-penemuan baru di sektor tersebut.
“Ini akan berjalan maju mundur, tetapi kami memperkirakannya akan memiliki bias positif,” pungkas Martin.
