STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street berpesta pada penutupan perdagangan Jumat (9/1/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (10/1/2026) WIB. Indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average (DJIA) kompak mencetak rekor penutupan tertinggi yang baru. Penguatan ini terjadi setelah rilis laporan pekerjaan terbaru Amerika Serikat (AS).
Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York bertambah 237,96 poin atau 0,48% ke level 49.504,07. Indeks S&P 500 (SPX) naik 0,65% ke level 6.966,28. Angka ini merupakan rekor penutupan sekaligus titik tertinggi baru sepanjang sejarah. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) melesat 0,81% ke posisi 23.671,35.
Ketiga indeks utama ini mencatatkan kinerja mingguan yang positif. S&P 500 menguat lebih dari 1% dalam sepekan. Dow Jones melonjak 2,3% dan Nasdaq melompat 1,9%.
Laporan pekerjaan bulan Desember menunjukkan penambahan 50.000 tenaga kerja non-pertanian. Angka ini lebih rendah dari estimasi ekonom yang memprediksi 73.000 lapangan kerja. Meski sedikit di bawah perkiraan, data ini menunjukkan ekonomi AS masih terus bergerak maju.
Tingkat pengangguran terpantau turun menjadi 4,4%. Sebelumnya, para ekonom memperkirakan angka pengangguran berada di level 4,5%. Para pelaku pasar menilai hal ini sebagai sinyal perbaikan ekonomi akan segera terjadi.
Anthony Saglimbene, Chief Market Strategist di Ameriprise Financial, menilai kondisi ketenagakerjaan AS melunak namun tetap kokoh. Ia menyebut saat ini pasar tenaga kerja berada dalam lingkungan “rendah perekrutan, rendah pemecatan”.
Anthony Saglimbene mengatakan, “Apa yang bisa menjadi risiko adalah Anda bisa melihat lapangan kerja turun sedikit lebih banyak dari yang diharapkan, dan menurut saya itu mungkin akan sedikit mengkhawatirkan investor.”
Ia menambahkan, “Kita melewati minggu ini di sisi ketenagakerjaan dengan angka yang sebagian besar sesuai perkiraan, yang menurut saya merupakan hal positif.”
Laporan bulan Desember ini merupakan data pertama yang tidak terpengaruh oleh penutupan pemerintahan AS. Saglimbene menilai angka-angka kali ini jauh lebih akurat. Hal ini memberikan gambaran yang lebih jelas bagi kebijakan bank sentral AS, The Fed.
“Laporan nonfarm payrolls ini adalah laporan pertama dalam beberapa bulan terakhir dengan data yang bersih,” ujar Saglimbene. Ia melanjutkan, “Melihat angka-angka ini, hal tersebut menunjukkan The Fed mungkin tidak perlu melakukan pemangkasan pada bulan Januari, dan mungkin mereka juga tidak perlu memangkas pada bulan Maret.”
Sektor perumahan turut menopang pasar pada perdagangan Jumat. Hal ini terjadi setelah Presiden Donald Trump mengarahkan pembelian obligasi hipotek. Kebijakan ini bertujuan menurunkan suku bunga bagi pembeli rumah.
Saham D.R. Horton melesat hampir 8%. Saham PulteGroup melonjak lebih dari 7%. Saham Lennar juga naik lebih dari 8%. Saham sektor perbaikan rumah seperti Home Depot turut mencatatkan penguatan.
