Stockwatch.id Versi penuh
Global

Stock Futures Bergerak Tipis, Investor Wall Street Pilih Wait and See Jelang Data Inflasi AS

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (stock futures) saham Amerika Serikat (AS) terpantau bergerak tipis pada Rabu (27/5/2026) malam waktu setempat atau Kamis (28/5/2026). Para pelaku pasar ki...

Oleh Daiz 28 May 2026 05:35 2 menit baca

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (stock futures) saham Amerika Serikat (AS) terpantau bergerak tipis pada Rabu (27/5/2026) malam waktu setempat atau Kamis (28/5/2026). Para pelaku pasar kini tengah menantikan rilis data inflasi penting untuk periode April.

Mengutip CNBC International, kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq 100 terpantau naik 0,1%. Kontrak berjangka yang terikat dengan Dow Jones Industrial Average (DJIA) bertambah 66 poin atau sekitar 0,1%.

Pergerakan stabil ini menyusul rekor baru yang dicapai indeks Dow Jones pada penutupan perdagangan Rabu. Indeks tersebut melonjak 182,60 poin atau 0,36%. S&P 500 juga mencatat rekor penutupan dengan kenaikan tipis 0,02%. Sementara itu, Nasdaq Composite menguat 0,07%.

Sentimen pasar didorong oleh penurunan harga minyak mentah dunia. Penurunan ini terjadi setelah Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan adanya kemajuan dalam pembicaraan dengan pihak Iran. Rubio menyebut pemerintah lebih menyukai jalur diplomasi untuk menyelesaikan konflik.

Meski demikian, Presiden AS, Donald Trump, menegaskan komitmennya terhadap keamanan jalur perdagangan global. Trump menyatakan tidak akan membiarkan Iran menguasai Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan apa pun.

Di sisi korporasi, saham Snowflake melonjak hingga 30% pada sesi perdagangan setelah jam kerja (extended trading). Perusahaan platform data berbasis awan tersebut berencana menghabiskan dana sebesar USD 6 miliar untuk Amazon Web Services (AWS) selama lima tahun ke depan. Snowflake juga melaporkan kinerja laba dan pendapatan kuartal pertama yang melampaui ekspektasi pasar.

Kini perhatian investor tertuju pada rilis indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) April yang dijadwalkan pada Kamis pagi waktu setempat. Data ini merupakan indikator inflasi favorit Federal Reserve (The Fed) untuk menentukan arah kebijakan moneter. Pengumuman ini menjadi sangat krusial mengingat Kevin Warsh kini telah resmi menjabat sebagai Ketua The Fed yang baru.

Para ekonom memproyeksikan kenaikan PCE sebesar 0,5% secara bulanan dan 3,8% secara tahunan. Tanpa menghitung harga makanan dan energi yang volatil, inflasi inti diperkirakan berada di level 3,3%.

Adam Crisafulli, Pendiri dan Presiden Vital Knowledge, menilai reli sektor teknologi tahun ini sudah terlalu jenuh. Ia menyarankan investor mulai melirik sektor lain di pasar modal.

"Saya pikir rotasi akan menjadi rencana permainan untuk sisa musim panas," kata Crisafulli.

Selain data inflasi, investor juga memantau rilis klaim pengangguran mingguan dan laporan penjualan rumah baru. Beberapa perusahaan besar seperti Royal Bank of Canada, Dollar Tree, dan Kohl’s dijadwalkan melaporkan kinerja keuangan mereka sebelum pembukaan pasar hari Kamis.

Topik terkait
Wall Street Stock futures Futures Nasdaq 100 Kontrak Berjangka Saham AS kontrak berjangka S&P 500