STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Manajemen PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) mengumumkan, pihaknya telah menandatangani perjanjian jual beli saham dengan PT Fortuna Optima Distribusi (FOD) untuk melepas 99,9% saham Perseroan dalam PT Super Ekonomi Ritelindo (SER) senilai Rp61,649 miliar pada tanggal 8 April 2026.
“Penjualan saham SER adalah bagian dari langkah strategis Perseroan melakukan penataan struktur usaha dan optimalisasi portofolio bisnis,” tulis Mirtha Sukanto, Sekretaris Perusahaan MPPA dalam keterangan, Rabu 8 April 2026.
Menurut Mirtha, transaksi ini merupakan Transaksi Afiliasi, namun dikecualikan dari kewajiban tertentu sebagaimana diatur dalam POJK 42/2020. Hal ini mengingat transaksi tersebut dilakukan antara Perseroan dengan entitas anak yang dimiliki secara langsung sebesar 99,9%.
Selain itu, lanjut Mirtha, transaksi ini juga bukan merupakan suatu transaksi benturan kepentingan karena tidak terdapat perbedaan kepentingan ekonomis Perseroan dan kepentingan ekonomis pribadi anggota direksi, anggota dewan komisaris atau pemegang saham utama yang dapat merugikan Perseroan.
Bahkan, demikian Mirtha, tidak terdapat dampak yang merugikan terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, dan kelangsungan usaha Perseroan sebagaimana dimaksud dalam POJK No. 42/2020.
Seperti diketahui, PT Super Ekonomi Ritelindo (SER) merupakan entitas anak usaha Perseroan yang dimiliki secara langsung sebesar 99,99%. Begitu juga dengan PT Fortuna Optima Distribusi (FOD) merupakan entitas anak usaha Perseroan dengan kepemilikan saham secara langsung sebesar 99,99%.
Dari sisi keuangan, MPP membukukan penjualan bersih sebesar Rp7,253 triliun pada 2025, naik 1,9% dari Rp7,118 triliun pada 2024. Kenaikan penjualan didukung permintaan pelanggan dan inisiatif strategis yang dijalankan tahun lalu.
Sayang, kenaikan penjualan tersebut tidak berdampak positif terhadap kinerja laba Perseroan. MPPA justru menderita rugi bersih sebesar Rp152,195 miliar pada 2025, meningkat 28,85% dari rugi Rp118,112 miliar tahun 2024. Kerugian tersebut disebabkan antara lain oleh peningkatan beban non operasional sepanjang tahun lalu. (konrad)
