STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik kompak melemah pada penutupan perdagangan Kamis (19/3/2026). Investor bereaksi negatif terhadap kejatuhan indeks di Wall Street semalam. Lonjakan harga energi akibat perang Iran turut memicu kekhawatiran pelaku pasar global.
Mengutip CNBC International, inflasi di Amerika Serikat (AS) masih menjadi perhatian utama. Indeks harga produsen (PPI) Februari naik 0,7%, jauh di atas perkiraan ekonom sebesar 0,3%. Federal Reserve (The Fed) pun memutuskan untuk menahan suku bunga acuan pada level 3,5% hingga 3,75%.
Ketua The Fed Jerome Powell memberikan sinyal kurang menggembirakan terkait penurunan bunga. Powell menyebut inflasi tidak turun sebanyak yang “diharapkan.” Meski begitu, proyeksi pemangkasan bunga tetap ada untuk tahun 2026 dan 2027.
Kekhawatiran terhadap pasokan energi meningkat akibat ketegangan perang Iran. Harga minyak mentah Brent melonjak 6,12% menjadi USD 113,97 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga naik 1,08% ke level USD 97,36 per barel.
Bursa Jepang memimpin pelemahan di kawasan Asia. Indeks Nikkei 225 anjlok 3,38% ke posisi 53.372,53. Indeks Topix juga merosot 2,91% menjadi 3.609,4. Di sisi lain, Bank of Japan (BoJ) memutuskan untuk menahan suku bunga pada level 0,75%.
Indeks Kospi Korea Selatan turun 2,73% dan berakhir di level 5.763,22. Saham Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing terpangkas 3,84% dan 4,07%. Nilai tukar Won sempat menembus angka 1.500 terhadap USD.
Menteri Keuangan Koo Yun-cheol menyatakan otoritas memiliki “rasa kewaspadaan yang tinggi terhadap pasar valuta asing.” Hal ini merespons gejolak nilai tukar yang terjadi di pasar selama sesi perdagangan berlangsung.
Bursa Australia juga terpapar aksi jual cukup masif. Indeks S&P/ASX 200 turun 1,65% ke level 8.497,8. Pencapaian ini merupakan level terendah indeks tersebut sejak November 2025.
Pasar saham China tidak ketinggalan masuk ke zona merah. Indeks CSI 300 turun 1,61% ke posisi 4.583,25. Indeks Hang Seng di Hong Kong juga melemah 2,04% pada jam terakhir perdagangan.
Pelemahan tajam turut melanda bursa India. Indeks Nifty 50 anjlok 2,43% dan BSE Sensex turun 2,2%. Saham HDFC Bank merosot 5% setelah pengunduran diri Atanu Chakraborty selaku pimpinan paruh waktu.
Atanu Chakraborty memutuskan mundur setelah menandai adanya “kekhawatiran tata kelola dan etika” di dalam institusi tersebut. Pernyataan ini menambah beban tekanan pada indeks saham di India.
