back to top

Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak di Atas 107 USD

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak hampir 4% pada akhir perdagangan Rabu (18/3/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (19/3/2026) WIB. Kenaikan ini dipicu oleh eskalasi ancaman dari Israel dan Iran terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah. Kondisi tersebut berisiko memperparah gangguan pasokan minyak global.

Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent naik 3,96 USD atau 3,83%. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 107,38 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berakhir hampir tidak berubah. Minyak WTI menetap pada posisi 96,32 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.

Ketegangan meningkat setelah muncul laporan serangan Israel terhadap fasilitas pengolahan gas terbesar milik Iran di Provinsi Bushehr. Kabar ini disiarkan oleh media Times of Israel dan Jerusalem Post.

Iran membalas dengan melontarkan ancaman serangan terhadap fasilitas minyak di Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar. Garda Revolusi Iran memperingatkan masyarakat untuk menjauhi lokasi-lokasi yang disebut sebagai target utama.

Fasilitas yang menjadi incaran mencakup kilang Samref dan kompleks petrokimia Al-Jubail di Arab Saudi. Ladang gas Al Hosn di UEA serta kompleks petrokimia Mesaieed di Qatar juga masuk dalam daftar ancaman tersebut.

Ancaman terbaru ini muncul setelah Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi di UEA awal pekan ini. Serangan luas terhadap fasilitas migas diprediksi akan memperburuk gangguan pasokan akibat penurunan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz.

Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell ikut menanggapi situasi pasar energi saat ini. Lonjakan harga minyak disebut akan meningkatkan inflasi dalam jangka pendek.

Powell menilai masih terlalu dini untuk mengetahui dampak biaya energi yang lebih tinggi terhadap ekonomi Amerika Serikat (AS). Sementara itu, The Fed tetap mempertahankan suku bunga utama di kisaran 3,5% hingga 3,75%.

Analis dari Citi memprediksi harga Brent akan reli hingga 120 USD per barel dalam beberapa hari mendatang. Pihak bank memperkirakan adanya gangguan pasokan sebesar 11 juta hingga 16 juta barel per hari hingga April.

“Pasar kemungkinan akan reli sampai menemukan harga atau peristiwa pasar yang mendorong AS untuk mengakhiri operasi militernya,” kata para analis tersebut.

Jika Selat Hormuz tetap tertutup untuk waktu yang lama, harga Brent diprediksi mencapai rata-rata 130 USD pada kuartal kedua dan ketiga. Hal ini diasumsikan terjadi dalam skenario serangan luas terhadap infrastruktur energi.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan keringanan Undang-Undang Jones (Jones Act) selama dua bulan. Langkah ini diambil sebagai upaya meredam lonjakan harga bahan bakar di AS.

Undang-Undang Jones mengharuskan pengangkutan barang antar pelabuhan domestik menggunakan kapal milik AS. Keringanan dari Trump memungkinkan kapal asing turut mengangkut minyak dan pasokan energi lainnya di AS. Kebijakan ini diharapkan mampu menurunkan biaya transit energi secara signifikan.

- Advertisement -

Artikel Terkait

The Fed Tahan Suku Bunga, Harga Emas Dunia Terperosok di Bawah USD 4.900

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia berakhir lebih rendah...

Iran Tolak Deeskalasi, Harga Emas Dunia Bertahan di Level USD 5.000

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia bergerak stabil pada...

Sekutu NATO “Emoh” Bantu Trump, Harga Minyak Langsung Terbang ke Level USD 103 per Barel

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak lebih dari...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru