Trump Ancam Uni Eropa dengan Tarif Impor, Perang Dagang Baru di Depan Mata?

STOCKWATCH.DI (MARYLAND) – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan ancaman tarif impor. Setelah mengenakan tarif 25% untuk barang dari Meksiko dan Kanada serta tambahan pajak 10% untuk impor dari China, kini Uni Eropa menjadi target berikutnya.

Mengutip BBC News, setibanya di Maryland dari Florida, Trump berbicara kepada BBC soal kemungkinan tarif baru untuk produk dari Uni Eropa. “Saya tidak akan bilang ada tenggat waktunya, tapi ini akan terjadi cukup segera,” ujarnya.

Trump menuding Uni Eropa berlaku tidak adil dalam perdagangan. “Mereka tidak menerima mobil kami, tidak menerima produk pertanian kami, hampir tidak mengambil apa pun dari kami. Sementara itu, kami menerima segalanya dari mereka—jutaan mobil, makanan dalam jumlah besar, dan produk pertanian,” kata Trump kepada jurnalis.

Namun, ia menyebut bahwa hubungan dagang dengan Inggris masih bisa dinegosiasikan. “Inggris sedikit di luar jalur, tetapi saya yakin itu bisa diselesaikan,” tambahnya.

Pernyataan Trump langsung menuai reaksi keras dari Uni Eropa. Blok ekonomi yang beranggotakan 27 negara ini mengecam ancaman tersebut dan memperingatkan bahwa mereka akan merespons dengan tegas. “Kami tidak akan tinggal diam jika terkena dampaknya,” ujar seorang pejabat Uni Eropa.

Sementara itu, Meksiko dan Kanada juga mengancam akan mengambil tindakan balasan terhadap kebijakan tarif AS. China pun menegaskan siap menerapkan “langkah-langkah balasan yang setara.”

Di tengah ketegangan ini, hubungan Trump dengan Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, justru tampak akrab. “Kami telah mengadakan beberapa pertemuan dan banyak panggilan telepon. Kami berhubungan dengan sangat baik,” kata Trump.

Pekan lalu, Menteri Bisnis Inggris, Jonathan Reynolds, menegaskan bahwa Inggris seharusnya dikecualikan dari tarif AS. Ia menyoroti fakta bahwa AS tidak mengalami defisit perdagangan barang dengan Inggris, yang berarti AS tidak lebih banyak mengimpor dibandingkan mengekspor ke negara tersebut.

Trump terus menggunakan kebijakan tarif sebagai senjata utama ekonominya. Ia yakin langkah ini bisa melindungi lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan pajak negara.

Namun, banyak ekonom memperingatkan dampak buruknya bagi konsumen AS. Tarif yang lebih tinggi bisa membuat harga barang naik dan memicu negara lain untuk mengurangi ketergantungan pada produk AS.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Wall Street Tumbang, Indeks Dow Jones Terperosok Hampir 800 Poin

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Trump Perpanjang Jeda Serangan ke Iran, Bursa Saham Eropa Justru Parkir di Zona Merah

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada...

Trump Tunda Serangan ke Iran, Bursa Saham Asia Ditutup Bervariasi

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik bergerak...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru