STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup melemah pada akhir perdagangan Selasa sore (24/3/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (25/3/2026) WIB. Indeks S&P 500 melepaskan sebagian keuntungan besar yang diraih pada sesi sebelumnya. Hal ini terjadi seiring kembali naiknya harga minyak mentah saat perang Iran memasuki minggu keempat.
Mengutip CNBC International, indeks S&P 500 (SPX) merosot 0,37% dan berakhir di posisi 6.556,37. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York menyusut 84,41 poin atau 0,18% ke level 46.124,06. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) jatuh 0,84% menjadi 21.761,89.
Harga minyak dunia kembali melonjak setelah sempat merosot pada sesi sebelumnya. Minyak mentah Brent naik 4,55% dan menetap pada angka USD 104,49 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga ditutup naik 4,79% ke posisi USD 92,35 per barel.
Kenaikan harga minyak membuat energi menjadi sektor dengan performa terbaik di S&P 500. Sektor ini melonjak 2% selama sesi perdagangan. Secara bulanan, keuntungan sektor energi mencapai lebih dari 9%. Energi menjadi satu-satunya sektor di S&P 500 yang berada di zona hijau dalam jangka waktu tersebut.
Presiden Donald Trump pada Selasa menyatakan Amerika Serikat sedang dalam proses negosiasi dengan Iran. Ia menambahkan pihak lawan ingin membuat kesepakatan. Namun, media pemerintah Iran melaporkan tidak ada pembicaraan langsung antara kedua negara.
Kebingungan melanda investor Wall Street terkait efektivitas pembicaraan untuk mengakhiri perang. Otoritas Israel melaporkan kedua negara masih saling serang setelah komentar Trump pada hari Senin. Di sisi lain, Pentagon berencana mengerahkan sekitar 3.000 tentara ke Timur Tengah.
Terry Sandven, Chief Equity Strategist di U.S. Bank Asset Management, memberikan analisanya. Ia menilai pasar bergerak fluktuatif akibat situasi di Iran.
“Apa yang kita lihat saat ini adalah banyaknya ketidakpastian di Iran, dan akibatnya, saya pikir pasar bergerak menyamping, dengan kinerja yang cukup fluktuatif, sampai visibilitas tersebut membaik,” ujar Sandven.
Sandven memprediksi tekanan pasar masih akan berlanjut. Kondisi ini bergantung pada level psikologis indeks pasar.
“Jika S&P 500 ditutup di bawah 6.500, Anda mungkin akan melihat penurunan lebih lanjut,” tambahnya.
Investor sebenarnya mendapatkan sedikit sinyal positif pada Selasa. Pakistan menawarkan diri untuk memfasilitasi pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran.
Ketegangan ini bermula saat Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran. Ancaman tersebut berlaku jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali. Iran membalas dengan menyatakan akan menargetkan infrastruktur Amerika Serikat sebagai taktik balas dendam.
