back to top

Tudingan ‘Trap Report’ Viral di Media Sosial, Begini Tanggapan BRMS!

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) merespons cuitan seorang manajer investasi asing yang menyinggung laporan riset analis pertambangan UBS Indonesia terkait saham BRMS. Perseroan menilai pandangan setiap pengelola dana terhadap perusahaan sekuritas dapat berbeda dan sering kali dipengaruhi faktor subjektif.

Direktur & Chief Investor Relations BRMS, Herwin Wahyu Hidayat, menjelaskan persepsi antara investor institusi dan rumah riset saham dapat bervariasi tergantung latar belakang serta hubungan yang terjalin.

“Persepsi manajer investasi terhadap perusahaan sekuritas dapat berbeda-beda dan sering kali bersifat subjektif,” ujar Herwin Wahyu Hidayat dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (17/3/2026).

Sebelumnya, seorang manajer investasi asing, Ricky Ho, melalui akun media sosialnya @rickyho_1989 menuding analis pertambangan UBS Indonesia mempromosikan saham BRMS dan menerbitkan laporan yang disebut sebagai “trap report” untuk menarik minat investor membeli saham tersebut. Akun tersebut juga menyinggung adanya aktivitas wash trading pada saham BRMS. Ia jmenyebut saham BRMS telah turun hampir 50% dari puncaknya. Cuitan tersebut juga menyatakan analis UBS Indonesia dimasukkan dalam daftar larangan pertemuan oleh pihaknya.

Menanggapi hal itu, manajemen BRMS menilai laporan riset UBS terkait Perseroan masih berada dalam kisaran analisis yang sama dengan sejumlah rumah riset lainnya.

“Saya menilai laporan riset UBS mengenai BRMS cukup akurat dan sejalan dengan laporan beberapa perusahaan sekuritas lain,” kata Herwin.

Ia menjelaskan saat ini terdapat lebih dari sembilan laporan riset publik mengenai BRMS yang diterbitkan berbagai perusahaan sekuritas global.

Laporan-laporan tersebut umumnya menyoroti sejumlah katalis utama yang berpotensi mendorong kinerja BRMS dalam dua tahun ke depan.

Pertama, peningkatan kapasitas pabrik pengolahan emas di Palu dari 500 ton per hari menjadi 2.000 ton per hari yang ditargetkan selesai pada kuartal IV 2026.

Kedua, pengoperasian tambang emas bawah tanah di Palu dengan kadar emas sekitar 3,5–4,9 gram per ton yang dijadwalkan mulai produksi pada semester II 2027.

Ketiga, pengumuman hasil pengeboran mineral tembaga di Gorontalo yang direncanakan pada 2027.

Menurut Herwin, informasi mengenai proyek dan rencana pengembangan tersebut telah disampaikan secara luas kepada komunitas investasi global, termasuk para analis pertambangan dari sejumlah perusahaan sekuritas besar.

Manajemen BRMS juga baru saja melakukan kunjungan non-deal roadshow (NDR) ke Singapura dua pekan lalu. Dalam kegiatan tersebut, manajemen bertemu lebih dari tujuh investor institusi asing.

“Sebagian besar investor masih melihat fundamental dan prospek BRMS secara positif,” ujar Herwin.

Meski demikian, sejumlah investor tetap mencermati faktor makro ekonomi yang memengaruhi pasar Indonesia. Faktor tersebut antara lain penurunan prospek peringkat negara oleh Fitch dan Moody’s, defisit fiskal, serta pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Herwin juga menilai penurunan harga saham BRMS pada perdagangan terakhir lebih dipengaruhi faktor teknis indeks.

Ia menyebut tiga saham tambang emas baru masuk dalam indeks Gold Junior sehingga memicu penyesuaian bobot portofolio oleh dana ETF.

“Saham BRMS mengalami penurunan bobot setelah masuknya tiga saham emas baru dalam Gold Junior Index,” kata Herwin.

Penyesuaian komposisi indeks Global Gold Miners Index (GDX) berpotensi memicu arus dana keluar dari sejumlah saham tambang di Indonesia. Rebalancing indeks tersebut akan efektif secara global pada 20 Maret 2026. Namun untuk pasar Indonesia dimajukan menjadi 17 Maret 2026 karena adanya libur panjang bursa.

Berdasarkan pembaruan terbaru GDX review, dua saham tambang Indonesia di indeks utama diperkirakan mengalami arus dana keluar.

Pada Standard Index, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) diperkirakan mengalami arus dana keluar sekitar USD21 juta atau setara sekitar tiga hari rata-rata nilai transaksi harian (average daily value/ADV).

Sementara saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) berpotensi mencatat arus dana keluar sekitar USD37 juta atau sekitar tiga hari ADV.

Di sisi lain, perubahan komposisi juga terjadi pada Junior Index dengan masuknya tiga saham tambang emas baru dari Indonesia.

Saham PT Sumber Global Energy Tbk (EMAS) diperkirakan menerima arus dana masuk sekitar USD71 juta atau setara delapan hari ADV.

Selain itu, saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) diperkirakan memperoleh arus dana masuk sekitar USD10 juta atau sekitar satu hari ADV.

Saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) juga diperkirakan mendapat arus dana masuk sekitar USD2 juta atau sekitar satu hari ADV.

Sementara itu, saham BRMS yang juga tercatat di indeks junior diperkirakan mengalami arus dana keluar sekitar USD10 juta atau setara satu hari ADV.

Perubahan bobot tersebut biasanya mendorong dana berbasis indeks atau exchange traded fund (ETF) melakukan penyesuaian portofolio sesuai komposisi indeks terbaru.

Langkah ini kerap memicu lonjakan volume transaksi dalam jangka pendek pada saham-saham yang terdampak rebalancing.

- Advertisement -

Artikel Terkait

IHSG Berpeluang Rebound Hari Ini, BNI Sekuritas Jagokan 6 Saham! Ada MBMA, AMMN, hingga BULL

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa...

Bakrieland (ELTY) Siapkan Right Issue JGLE Rp414 Miliar, Bidik Proyek Baru di Sentul

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) memacu...

Surya Artha Nusantara Finance Tebar Dividen Rp74,7 Miliar, Wempy Kunto Tetap Presiden Direktur

STOCKWATCH.ID, JAKARTA — PT Surya Artha Nusantara Finance (SANF)...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru