STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia merosot pada akhir perdagangan Rabu (1/4/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (2/4/2026) WIB. Penurunan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan sinyal perang di Iran akan segera berakhir. Para investor kini menimbang kemungkinan penarikan pasukan militer AS dalam waktu dekat.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni turun 2,93 USD atau 2,82%. Minyak acuan global ini diperdagangkan pada level 101,04 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei jatuh 1,26 USD atau 1,24%. Minyak WTI berakhir pada posisi 100,12 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.
Harga minyak mulai melandai usai pernyataan Trump pada Selasa malam waktu setempat. Ia memperkirakan operasi militer AS terhadap Iran selesai dalam dua atau tiga minggu. Trump seolah menyatakan kemenangan atas kondisi perang saat ini.
“Kami pergi karena tidak ada alasan bagi kami untuk melakukan ini. Kami akan pergi segera,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Trump juga mengesampingkan perlunya kesepakatan negosiasi guna mengakhiri perang. Ia menilai rezim baru di Iran jauh lebih mudah diakses. Selain itu, Trump mengklaim telah menghentikan upaya Iran mendapatkan senjata nuklir.
Penurunan harga hari ini memutus reli kuat yang terjadi sepanjang bulan lalu. Harga minyak global sempat melonjak lebih dari 60% pada Maret. Catatan tersebut merupakan reli bulanan terkuat sejak tahun 1988.
Pasar energi global mengalami gangguan pasokan parah sejak perang pecah pada 28 Februari. Konflik ini memicu kekhawatiran pada ekonomi global yang sangat bergantung pada minyak Timur Tengah.
Iran telah menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz secara efektif. Jalur ini merupakan penghubung penting yang biasanya mengalirkan 20% pasokan minyak dunia. Penutupan jalur tersebut menjadi faktor utama melambungnya harga energi dalam sebulan terakhir.
Michael Feller, salah satu pendiri lembaga pemikir Geopolitical Strategy, memberikan pandangan berbeda. Ia menilai posisi Trump saat ini sedang terjepit.
“Trump tetap terjepit. Pergi sekarang berarti mengakui kekalahan,” kata Feller.
Meskipun ada sinyal damai, ketegangan militer masih berlangsung di lapangan. Garda Revolusi Iran mengancam akan menyerang perusahaan-perusahaan AS di kawasan tersebut. Sebanyak 18 perusahaan masuk dalam daftar target, termasuk Google, Microsoft, Apple, hingga Tesla.
Media lokal Kuwait melaporkan adanya serangan pesawat tak berawak milik Iran pada hari Rabu. Serangan tersebut menyasar tangki bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait. Insiden ini menyebabkan kebakaran besar dan kerusakan pada fasilitas tangki.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memberikan klarifikasi mengenai hubungan diplomatik dengan AS. Ia mengakui adanya pertukaran pesan antar kedua negara melalui saluran langsung maupun regional. Namun, ia membantah adanya proses negosiasi resmi.
“Saya menerima pesan dari [utusan khusus AS] Witkoff secara langsung, seperti sebelumnya, dan ini tidak berarti kami sedang dalam negosiasi,” tegas Araghchi kepada Al Jazeera.
Pihak Gedung Putih telah menjadwalkan pidato nasional terbaru melalui juru bicara Karoline Leavitt. Trump akan memberikan pembaruan penting mengenai situasi Iran pada Rabu pukul 21.00 waktu setempat. Pelaku pasar kini menanti kepastian langkah AS selanjutnya dari pidato tersebut.
