STOCKWATCH.ID (NEWYORK) – Wall Street kembali ditutup menguat pada perdagangan hari Jumat (25/7/2025) waktu setempat atau Sabtu pagi (26/7/2025) WIB). Indeks S&P 500 mencetak rekor penutupan untuk kelima kalinya secara beruntun dalam sepekan.
Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York) naik 208,01 poin atau 0,47% menjadi 44.901,92. Meski belum menembus rekor sebelumnya, indeks ini hanya terpaut sekitar 0,25% dari rekor penutupan 45.014,04 pada 4 Desember lalu. Indeks S&P 500 (SPX) 500 bertambah 25,29 poin atau 0,4% ke level 6.388,64. Ini jadi rekor penutupan ke-14 sepanjang 2025.
Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, menguat 50,36 poin atau 0,24% mencapai 21.108,32. Indeks ini menorehkan rekor penutupan ke-15 tahun 2025.
Ketiga indeks utama di Wall Street sama-sama mengakhiri pekan dengan kenaikan. Dow Jones naik sekitar 1,3%, Nasdaq menguat 1%, dan S&P 500 mencatat kenaikan mingguan sebesar 1,5%.
Lonjakan ini didorong oleh laporan keuangan emiten yang solid. Saham Alphabet melonjak setelah melaporkan laba yang melebihi ekspektasi. Saham Verizon juga naik setelah hasil kinerjanya mengalahkan perkiraan analis.
Sepanjang pekan ini, saham Alphabet naik 4%, sedangkan Verizon menguat 5%.
Data dari FactSet menunjukkan lebih dari 82% dari 169 perusahaan di indeks S&P 500 yang telah melaporkan kinerjanya, berhasil melampaui ekspektasi pasar.
Terry Sandven, Kepala Strategi Ekuitas di U.S. Bank Wealth Management, mengatakan sentimen pasar masih positif. “Pasar bullish masih berlanjut, ditopang oleh fundamental yang kuat,” ujarnya kepada CNBC.
Menurut Sandven, inflasi yang stabil, suku bunga yang tetap dalam kisaran terkendali, dan tren kenaikan laba perusahaan menjadi kombinasi yang ideal bagi saham untuk terus menguat.
Selain kinerja emiten, sentimen pasar juga ditopang oleh perkembangan hubungan dagang. Presiden Donald Trump mengumumkan kesepakatan dagang besar dengan Jepang, termasuk tarif timbal balik sebesar 15%.
Trump juga menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Indonesia telah menyepakati kerangka kerja kesepakatan dagang. Bahkan, Trump berharap akan ada lebih banyak kesepakatan tercapai sebelum batas waktu tarif pada 1 Agustus.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen melalui unggahannya di platform X menyatakan telah setuju bertemu dengan Trump di Skotlandia pada Minggu mendatang untuk membahas isu perdagangan.
Meski demikian, Sandven mengingatkan risiko geopolitik dan ketidakpastian tarif masih membayangi pasar. “Komentar perusahaan masih mencerminkan ketidakpastian yang sedang berlangsung terkait tarif,” katanya.
Ia menambahkan, “Lihat saja tantangan geopolitik seperti Rusia-Ukraina, Israel-Iran dan lainnya. Tapi di tengah semua itu, pasar saham tetap naik. Kami percaya ini karena fundamental yang kuat, terutama inflasi yang terlihat terkendali.”
Investor kini menanti pekan tersibuk musim laporan keuangan, dengan lebih dari 150 perusahaan S&P 500 dijadwalkan merilis kinerja kuartalan. Termasuk di antaranya nama besar seperti Meta Platforms dan Apple.
Selain itu, pasar juga menanti pertemuan bank sentral AS pekan depan. The Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di kisaran 4,25% hingga 4,5%.
