back to top

Wall Street Ditutup Melemah Akhir Tahun, tapi S&P 500 Naik 16% Sepanjang 2025

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street berakhir melemah tipis pada perdagangan Rabu (31/12/2025) waktu setempat atau Kamis pagi (1/1/2026) WIB. Meski demikian, indeks S&P 500 berhasil mengakhiri tahun 2025 dengan kenaikan signifikan mencapai 16%.

Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York kehilangan 303,77 poin atau 0,63% ke level 48.063,29. Indeks S&P 500 (SPX) terkoreksi 0,74% ke level 6.845,50. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, turun 0,76% dan berakhir di posisi 23.241,99.

Pasar saham mencatatkan penurunan selama empat sesi berturut-turut pada akhir tahun. Namun, penurunan tersebut tergolong ringan bagi para investor. S&P 500 tetap mengunci kenaikan 16,39% sepanjang tahun ini. Ini merupakan rekor kenaikan dua digit tahunan selama tiga tahun berturut-turut.

Nasdaq Composite melesat 20,36% berkat antusiasme terhadap kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Dow Jones juga menguat 12,97% sepanjang 2025. Kenaikan Dow sedikit tertahan akibat minimnya representasi saham teknologi di dalamnya.

Capaian ini menandai pemulihan yang mengesankan dari kemerosotan pada awal April lalu. Saat itu, pengumuman tarif besar-besaran oleh Presiden Donald Trump sempat mengguncang pasar. S&P 500 bahkan hampir masuk ke wilayah pasar bearish (tren menurun) dengan penurunan hampir 19% dari puncaknya di bulan Februari.

Keith Buchanan, manajer portofolio senior di Globalt Investments, memberikan analisisnya terkait situasi ini. Menurutnya, pemerintah telah memetik pelajaran berharga dari gejolak tersebut.

“Ada pelajaran yang dipetik oleh pemerintah, yaitu tarif yang lebih cerdas dan sempit dengan penerapan bertahap adalah hal yang dapat diserap pasar,” ujar Keith Buchanan.

Ia menambahkan, pasar kini mampu mengabaikan setiap pergeseran tarif pada tahun 2026. “Pasar saat ini, karena tahun 2025, mampu mengabaikan setiap pergeseran tarif pada tahun 2026. Mereka mengandalkan pemerintah untuk mengingat pelajaran dari tahun 2025 dan juga perusahaan-perusahaan Amerika yang mampu menyesuaikan diri dengan cepat demi menjaga margin,” tambahnya.

Pelemahan dalam beberapa hari terakhir sempat menimbulkan kekhawatiran bagi sebagian pelaku pasar. Biasanya, lima hari perdagangan terakhir tahun ini dan dua hari pertama tahun depan dikenal sebagai periode Santa Claus Rally. Periode ini lazimnya memberikan dorongan terakhir bagi saham menjelang akhir tahun.

Aksi ambil untung baru-baru ini mungkin menjadi pertanda volatilitas di masa depan. Para ahli yang disurvei CNBC memperkirakan S&P 500 kembali mencatatkan kenaikan dua digit pada 2026. Namun, pertumbuhan laba perusahaan harus mampu mengejar valuasi saham yang sudah sangat tinggi.

AI tetap menjadi kekuatan utama penggerak pasar selama tiga tahun terakhir. S&P 500 sempat melonjak 24% pada 2023 setelah debut ChatGPT. Pada 2024, indeks pasar yang luas ini kembali menguat 23%.

Tahun ini, narasi AI mulai menyebar ke sektor lain. Kinerja saham kelompok Magnificent Seven mulai bervariasi. Alphabet menjadi pemenang besar dengan kenaikan 65,4% sejak awal tahun. Sebaliknya, Amazon menjadi yang tertinggal dengan kenaikan hanya 5,2%.

Di luar saham teknologi, kelas aset lain juga menunjukkan kinerja luar biasa. Komoditas mencatatkan tahun yang sangat baik. Harga emas meroket lebih dari 64%, sedangkan perak melambung tinggi lebih dari 141%.

Buchanan memprediksi dinamika pasar akan berubah pada tahun depan. Faktor fundamental akan memegang peranan lebih penting bagi pergerakan indeks.

“Kita telah melihat perubahan internal dengan cara yang menunjukkan kepada kita 2026 bisa terlihat sangat berbeda dari 2025, bahkan lebih berbeda dari 2023 dan 2024,” kata Buchanan. “[Pasar] akan lebih didorong oleh fundamental yang tidak terlalu bergantung pada kebijakan moneter dan pembangunan infrastruktur AI.”

Secara bulanan, Dow Jones menutup Desember dengan kenaikan 0,7%. Ini merupakan kemenangan bulanan kedelapan berturut-turut bagi Dow sejak 2018. Adapun S&P 500 turun kurang dari 0,1% sepanjang Desember, sementara Nasdaq terkoreksi 0,5% pada periode yang sama.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Wall Street Menghijau, Indeks Dow Jones Naik 230 Poin Usai MA AS Batalkan Tarif Trump

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Putusan Mahkamah Agung AS Jegal Tarif Trump, Bursa Saham Eropa Melaju Hijau

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat pada...

Bursa Saham Asia Mayoritas Melemah, Kospi Korea Selatan Justru Cetak Rekor

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik mayoritas...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru